In
RETALIATION
Hai, aku Alia. Wajahku oval, kulitku
putih, tinggi badanku 170cm. Dengan bulu mataku yang lentik, hidungku yang
mancung dan bibirku yang sexy, kalian sudah bisa berdecak kagum sekarang.
Kehidupanku indah, mulus, penuh gemerlap, dan Ah.. pokoknya perfect. Tentang
ujianku yang mendapatkan nilai tertinggi, lulus di SMA negeri favorit di
Jakarta, serta buku yang terjual laris sebagai best seller tahun lalu, itu
semua aku. Aku si jenius. Usiaku yang terbilang belia, sudah kembali dalam
proses menyelesaikan buku ketiga yang pastinya kembali dinantikan oleh semua
orang.
Sedikit lagi, tinggal menunggu redaksi
menghubungiku. Mengatakan jam terbang peluncuran buku yang sudah kurampungkan.
Ya, sedikit lagi. Sembari memikirkan bagaimana harus mengatur sikap saat pujian
dan tepuk tangan menghujani, aku ingin istirahat sebentar. Aku mengantuk.
***
“Kondisinya kritis dokter, kesadarannya
mulai hilang.”
“Segera siapkan ruang operasi. Tak ada
waktu lagi, cepat!!”
***
Sinar lampu menerangi ruangan itu.
Orang-orang yang berpakaian hijau menarik nafas lega dan mengelap keringat.
Mereka berhasil menjalankan tugas. Perempuan yang tergeletak lemas di kasur
operasi segera dipindahkan ke ruangan lain. Samar-samar terdengar perintah
tegas dari laki-laki yang nampaknya sangat disegani, penuh wibawa dan
mengatakan pada rekannya untuk segera mengumpulkan keluarga pasien.
***
Aku mengaduh saat kepalaku berdenyut-denyut.
Begitu pula dengan tanganku yang terpasang selang aneh. Sepertinya sudah
seminggu lebih aku disini. Aku mulai tak tahan lagi. Hari ini, aku akan
berontak pada laki-laki berbaju putih itu. Cuma karena ia menggunakan kebaikan
hatiku, jangan pikir aku tak tahu kalau ia sedang memamerkan buku ciptaanku dan
bermulut besar bahwa ia mengenal diriku. Kemarin saja ia mengaku sebagai adik
ayahku. Kalau saja ia lebih jujur, aku akan dengan lebih mudah memberikannya
tanda tangan. Tak usah pura-pura ingin mencari dimana tempat bukuku di edarkan,
siapapun tahu kalau semua agen ingin menjual bukuku.
“Hei suster, panggilkan pak Joyo dong, cepat.
Katakan Alia memanggilnya, sesibuk apapun dia, tak akan menolak ia kesini,
karena Alia yang minta. Nah, pergilah.”
Tak lama, terdengar suara langkah kaki
mendekat. Muncul dua perawakan besar yang memiliki garis wajah yang hampir
sama. Dibelakangnya, diikuti suster dan seorang perempuan yang terus menunduk.
“Alia sayang, bagaimana keadaanmu? Lihat,
ada ayah dan ibumu datang. Nah, kamu sudah setuju kan untuk mengikuti terapi cognitive?”
“Aku tidak sakit dokter. Dimana bukuku?
Aku akan segera menandatanganinya jika dokter mau. Tidak usah bersusah payah
menipuku seperti ini.”
Bapak yang satu ini kelihatannya belum mau mengaku
kalah. Ia melemparkan pandangannya kepada laki-laki berbaju setelan rapi di
sebelahnya. Ah—dia ayahku.
“Buku ketigamu sudah ditolak oleh editor.
Buku keduamu sudah tidak mendapat respon yang baik seperti bukumu yang pertama.
Sadarlah Alia, berhenti membuat Ayah malu dengan semua kebohonganmu.” Suara
berat dan sedikit serak itu menyapu keheningan.
“Tidak Bapak Dhewa, Anda tidak boleh berkata
seperti itu!” Pak Joyo, mulai cemas. Kata-kata pak Dhewa barusan tidak seperti
kesepakatan mereka satu jam yang lalu.
“Bisa-bisanya kau meminum obat tidur
seperti itu. Ayah tidak pernah mengajarkanmu menjadi anak yang lemah! Tirulah
kakakmu, dia sedang belajar giat sekarang. Dan seharusnya Ayah tidak kesini.
Buang-buang waktu saja.”
“Pak, cukup pak, bukankah kita sudah
berunding sebelumnya, anak bapak mengalami Narsissist
Personality Disorder, dan Alia cuma membutuhkan terapi untuk menyembuhkan
kejiwaannya. Bapak tidak bisa menekannya lebih dari ini.” Pak Joyo mencoba
tetap tenang, memegangi lengan pak Dhewa sambil memelankan suaranya dan menatap
penuh harap.
“Sudahlah pak Joyo, jangan terlalu berlebihan, Anda menyalahkan saya dan istri
saya. Mengatakan anak saya kesepian atau apapun! Kami menyediakan fasilitas
untuknya, semuanya! Ayo Alia, katakan bahwa kamu baik-baik saja! Kamu anak
penurut kan, kamu tidak pernah membantah!”
Ya, itu benar. Aku baik-baik saja. Tak ada
yang salah. Akan kukatakan. Akan ku.. jelaskan. Aku, Alia, anak tanpa cela.
“Tidak Alia, hal ini akan terus berulang
jika kamu tidak mau mengakui kekuranganmu, kamu akan terus menyakiti dirimu
sendiri tanpa kamu sadari. Tolonglah Alia…” pak Joyo menurunkan suaranya
serendah mungkin. Matanya hampir menangis. Ia ingin segera memukul pak Dhewa,
kakaknya sendiri yang bersikap semena-mena pada anaknya. Tapi egonya mengatakan
kalau ia tak boleh lupa posisinya sebagai dokter jiwa disini, yang harus selalu
tetap tenang dan berpengalaman.
Deg! Mengapa tiba-tiba aku merasa sesak
nafas. Ada aliran listrik menyengat di pembuluh darahku. Kepalaku sakit.
Suaraku tercekat. Apa benar ada yang salah? Ayah, jawab aku. Ibu… Ah—aku ingat,
bukankah ada Ibu disini?
“Apa benar kamu merasa dicintai?” pak
Joyo, menunduk. Mengusap lembut kepala Alia.
Ibu. Jawab pertanyaan bodoh itu Ibu. Aku anak
kesayanganmu kan bu?
“Tak ada yang salah dengan kegagalan Alia,
bukumu tidak diterbitkan bukan berarti semua orang akan menjauhimu. Tidak
mendapat pujian bukan berarti dirimu lemah.”
“Alia, kamu membutuhkan perawatan. Apakah
benar selama ini kamu merasa dicintai?”
Pak Joyo duduk di samping Alia. Menatap
nanar ke arah gadis itu. Jawaban Alia akan menjadi final bagi kesembuhannya, atau
justru sebaliknya.
Jawab laki-laki ini Alia! Tatap Ayah dan
Ibu, mereka pasti mencintaiku kan. iya Ayah.. Ayahku yang mencintaiku, sedang
menatapku. Tatapan tegas itu, semata-mata karena mengkhawatirkanku.
Ibu, aku anakmu yang paling cantik kan?
Kau selalu bilang Chika lebih baik karena tidak ingin membuatnya iri padaku.
Iyakan?
Ayah terlihat mengepalkan tangannya.
Memalingkan wajah dan memandang kosong ke samping. Ibu, mengambil sapu tangan
kesayangan, tetap menunduk, agar tak membiarkan siapapun melihat wajahnya yang
memerah. Selebihnya hanya gesekan daun yang sesekali terdengar. Tak ada
pembelaan. Tak ada pengakuan. Tak ada simpati. Raut wajah kedua orangtua itu
seakan menjawab semua pertanyaan di udara lewat keheningan yang terjadi.
Mereka sayang padaku. Aku… Alia, anak
baik. Anak yang istimewa.
“Aku mau pulang dokter. Aku tidak sakit.”
***
Ingatan
Alia berputar ke zaman ia masih kanak-kanak, dulu. Memori-memori yang
bergelantungan di kepalanya mendesak keluar. Tanpa diminta, tapi memaksa.
“Ibu! Ayah! Lihat, Alia dapat nilai 80!”
Alia berlari tak sabar memperlihatkan
nilai Matematika, pelajaran yang amat dibencinya kini membuktikan hasil usaha
dan kerja kerasnya.
“80? Kenapa bukan 100?” ucap Ayah datar
tanpa melongok dari atak yang menutupi wajahnya.
“Ah ini…”
Mata besar Alia berbinar-binar. Secepat
mungkin ia melebarkan kertas ulangan itu, mencari soal paling sulit—yang tak
seorangpun bisa menyelesaikannya, tapi Alia bisa!
“Kakakmu tidak pernah mendapat nilai di
bawah 90, Alia.” Ibu memotong persis disaat Alia berhasil membuka tutup pulpen.
Gemericik hujan di luar menutup suara desakan kertas yang tergenggam erat.
“Tapi… cuma Alia yang dapat 80.”
“Ya, tentu. Kakakmu selalu di kelas
orang-orang pilihan.” Ayah menimpali. Terus membaca tak bergeming. Tak melongok
sedikitpun.
“Kamu belum berangkat? Cepat ambil payung,
jangan sampai terlambat. Ah ya, kakakmu memang sering terlambat tapi tak pernah
ada masalah, sudah tau kan dia selalu diberi soal dan selalu mampu mengerjakannya,
tentu tak ada yang pernah mempermasalahkan. Wajar saja, dia kan juara umum. Ayo
tunggu apalagi? Oh ya, pulang sekolah kamu cari kertas-kertas ulangan bekas
kakakmu ya, belajarlah seperti dia. Ibu lihat kamu kemarin cuma belajar
sebentar dan juga….”
Alia merapikan rambutnya—berdoa cukup
bermanfaat sebagai sumpalan telinga. Ia ingat dengan jelas saat ia berlalu
pergi meninggalkan Ibu yang masih berceloteh panjang lebar. Kertas ulangan yang
lima menit lalu ia simpan begitu rapi sudah tak berbentuk. Ia harus cepat
mencari seseorang. Apapun. Siapapun. Katakan bahwa Alia hebat!
***
Tanah merah itu mulai dibasahi oleh rintik
hujan. Kepala-kepala mulai berlari berhamburan. Sibuk memperingati anaknya
masing-masing agar melindungi diri secepat mungkin. Tinggalah tiga orang yang
masih bertahan di depan nisan yang baru saja ditancapkan. Anak yang paling muda
menangis tak tertahan. Berkali-kali mencengkram bajunya tanpa mempedulikan
tubuhnya yang sudah sangat kotor. Sedang dua orang yang jauh lebih tua hanya
menatap bunga-bunga yang pasrah terguyur, yang makin lama membuat bunga
warna-warni itu tercampur air lalu hancur.
***
Langit masih bersikeras menurunkan air
dengan derasnya. Tanah coklat yang sejak semula bertekstur lunak, membuat
genangan air sangat coklat dan penuh lumpur. Udara dingin yang menerpa kulit
terasa begitu dingin menusuk tulang. Orang-orang yang berhamburan kembali ke
tempat berlindungnya masing-masing. Begitu juga Chika, menuju ke rumah megah di
daerah Jakarta bersama orangtuanya yang masih menatap jendela mobil tanpa
berkedip. Seolah-olah jalanan di luar sana begitu menarik perhatian. Namun
tatapan itu bukanlah bahasa mata untuk rasa takjub ataupun terkesima. Bola mata
hitam yang tanpa cahaya, tak berdaya dan sendu menangkap setiap ritme musik
yang dikeluarkan air hujan, berharap bisa menghitung sebanyak apa air yang
jatuh ke tanah lalu hancur. Ya, mereka bertanya-tanya seperti apakah rasanya
menjadi butiran hujan yang jernih dengan ikhlas bercampur dengan tanah,
kemudian begitu saja hilang dalam peleburannya.
“Ibu, apakah stok detergen kita masih
banyak?”
Suara lembut Chika dari kursi belakang
tiba-tiba memecahkan kesunyian.
Wanita anggun paruh baya itu menoleh
sedangkan yang lelaki tetap bergeming.
“Sepertinya masih ada. Tapi untuk apa kamu
bertanya itu, Nak? Ada baju yang ingin kau cuci? Sekarang bu Sumi yang akan
mencucikan semua bajumu, jadi tidak perlu memikirkannya. Kau terlalu mandiri
Nak.” jawabnya penuh kasih, berusaha tak mengulangi kesalahan yang kedua kali,
demi anak yang tinggal semata wayangnya itu.
“Ah, tidak Bu. Lupakan saja.” Chika
menjawab cepat lalu kembali diam.
Wanita itu mendelik khawatir, melihat
anaknya dari kaca depan. Kejadian hari ini pasti membuat jiwa anaknya
terguncang. “Benar tidak apa-apa?” ia bertanya lagi, kini dahinya terlihat
berkerut.
“Berapa lama lagi kita akan sampai Ayah?”
Chika tidak menghiraukan pertanyaan ibunya, balik menyerang ayahnya dengan
pertanyaan yang sama. Pertanyaan yang sudah ia lontarkan sepuluh kali sejak
mobil baru berjalan.
Namun Ayahnya tidak menjawab. Sama seperti
sepuluh pertanyaan yang lalu, tetap bergeming, melajukan mobil seperti patung
bisu. Keadaan kembali diam dan melanjutkan lamunan mereka masing-masing.
***
Chika
langsung berlari ke kamarnya. Tanpa gerakan tambahan apapun, ia menyeruak masuk
dan membanting pintu. Sang ibu yang berteriak memanggil ia acuhkan. Tapi
akhirnya wanita itu menyerah, bermaksud memberi waktu kepada anaknya untuk
menenangkan diri. Meski Alia memang bukan anak kandung di rumah ini, tapi Chika
pasti tetap terpukul dengan kematiannya. Begitu pikirnya.
Hujan
deras di luar menutup bunyi shower di kamar Chika sampai hanya terdengar
sayup-sayup saja. Ini sudah satu jam dan Chika masih belum saja keluar dari
kamar mandi pribadinya itu.
”Tega-teganya! Jahat sekali! Melihat kuburan Alia yang dibasahi hujan bagaimana
mungkin dia hanya terpatung membisu begitu!” Chika mulai meracau sembari terus
menuangkan detergen dan mengocoknya sampai busa-busa menaik dan mulai tumpah
dari bathtub.
“Aku
juga yang salah, kenapa juga aku terlalu bodoh. Kenapa juga aku bisa tidak
sadar! Bodohnya aku ini bodoh! Ah Alia...” Chika menggosok-gosok telapak
tangannya begitu keras dengan busa detergen. Ia masih menyumpah-nyumpah melihat
detergen habis tak tersisa.
Setelah merasa puas mandi lalu berpakaian,
Chika melirik botol obat di meja belajarnya. Botol yang sama di kamar Alia.
Botol yang benar-benar sama ketika Alia dikatakan bunuh diri meminum semua
obat-obat itu dikamarnya. Kemarin ia beli dua, sekarang tinggal satu.
***
Rumah itu kembali dikejutkan dengan adanya
mayat yang tergeletak di lantai ruang tamu mereka. Kepolisian masih
menginterogasi Pak Dhewa dengan teliti. Istrinya yang masih sangat terguncang,
bersama anaknya yang berusaha menenangkan diri ibunya itu.
“Apa
yang terjadi di keluarga kita? Ibu takut Chika.” Ibu terlihat begitu terpukul.
Ia bersama suaminya melihat Bu Sumi, pembantu mereka yang sudah bekerja 7 tahun
mati terkapar karena minum racun.
“Sudah
Bu, sudah. Mungkin benar dia ceroboh menaruh racun tikus itu ke minumannya
sendiri. Bukannya bu Sumi sudah mulai pikun?” Chika berusaha mengulang
penjelasan singkat dari penjelajahan sementara polisi.
“Tapi
tetap saja. Bagaimana kalau nanti keluarga kita yang dicurigai. Kenapa bisa
begini. Ibu tidak mengerti.” Katanya sambil terus terisak. Menangis tak
tertahan.
“Sudah
bu tenang saja, Ayah kan sedang menjelaskannya kepada polisi.” Jawab Chika
masih tenang.
“Maaf,
Ibu Arisa. Kami harus meminta sedikit keterangan dari Anda. Kami tahu ini sulit
tapi kami mohon kerjasamanya.” Bapak bertubuh besar dan tegap tiba-tiba
mendatangi mereka, memberi instruksi untuk bergabung diinterogasi bersama pak
Dhewa.
Wanita paruh baya itu menurut sembari
memberi kode kepada Chika untuk menunggu di kamarnya. Ia bangkit mengikuti pak
Polisi dan segera memeluk suaminya yang terlihat begitu tegar. Chika membungkuk
kepada mereka, memberi isyarat akan pergi ke kamar karena dia adalah
satu-satunya orang yang punya alibi. Chika ada di sekolah dan belum pulang pada
saat waktu kejadian.
Chika berjalan membelakangi Ibu dan
Ayahnya itu. Menghapus air matanya sambil menatap kosong. Pak Dhewa, tanpa
tersenyum sedikitpun melirik tajam ke arah anaknya itu.
***
“Sinetron sialan! Aku bodoh sekali meniru adegan mereka. Untuk apa pula aku
pura-pura menangis sambil menggengam tanah kotor begitu! Kenapa juga mereka
berdiri saja tidak langsung memaksa aku pulang, Ergh, sudah seminggu tapi aku
masih merasa begitu kotor. Kotor sekali. Ini sepertinya masih ada butiran pasir
di ujung kukuku.”
“Wanita kecil sialan itu selalu saja masuk
kamarku tanpa ijin. Mencuri kertas-kertas yang sudah kususun rapi. Betapa kotor
tangannya itu. Tidak pernah disemprot alkohol, Ih menjijikan. Ah Alia untung
saja kau punya penyakit aneh itu. Aku tidak perlu terlalu repot.”
“Nah,
detergen ini tidak cukup. Bu Sumi selalu saja mengambil detergen simpananku
rupanya. Wanita jelek itu tidak pernah menyerah meski kuusir. Manasudi bajuku
yang bersih itu dicuci ditangan kotornya.” Chika menyeringai sinis, masih asik
bermain dengan busa-busa detergen yang tersisa.
“Yah
tapi setidaknya, sekarang sudah beres.” Chika menghidupkan shower lagi, mencuci
tubuhnya dan memakai handuk.
***
Dua minggu berlalu semenjak kejadian naas
itu, aktifitas rutin kembali berjalan seperti biasa. Chika melanjutkan kuliahnya.
Bapak Dhewa kembali bekerja sedang Ibu Arisa sedikit demi sedikit berangsur
pulih. Sudah dua minggu ini ia jatuh sakit. Peristiwa yang membuatnya melihat
dua tubuh yang tergulai lemas tak bernyawa membuatnya shock berat. Ibu Arisa
menunda pergi ke kantor dan sekarang beristarahat di rumah. Pemeriksaan polisi
masih terus berlanjut, berharap menemukan bukti baru sebelum kasus kematian Ibu
pembantu rumah tangga ini ditutup. Tanpa tahu kedua korban sebenarnya terkena
kasus pembunuhan.
“Aku pulang.”
Chika berseru sambil menekan bel rumahnya.
Ia selalu pulang lebih cepat dibanding teman-temannya. Tidak pernah nongkrong di
kampus adalah kebiasaan lumrah baginya. Buat apa, pikirnya. Cepat pergi dari
kerumunan orang-orang yang kotor akan lebih baik bagi Chika.
“Kau sudah pulang, Nak,”
Ibu Arisa yang membukakan pintu. Matanya
masih terlihat sembab. Habis menangis.
“Iya Bu, loh ibu sudah baikan bukan?
Kenapa masih sangat pucat? Masih memikirkan bu Sumi? Iya aku juga, tapi kita
ikhlaskan saja Bu,” seru Chika.
“Iya Ibu tidak apa-apa. Sana masuk, mau
ibu buatkan makanan? Kamu sudah makan?” tanya Ibu Arisa.
“Oh tidak usah Bu, biar aku yang buat
sendiri. Ibu kan masih sakit. Berbaring saja jangan terlalu lelah,” balas Chika
cepat, pura-pura bersimpati. Sebenarnya ia hanya tidak mau makan masakan orang
lain. Selain dirinya, semua pekerjaan orang lain sulit dipercaya ke
higienisannya.
“Oh. Betulkah? Padahal ibu sudah sehat,
kok. Tidak masalah kan kalau Ibu buatkan makanan untukmu, Nak? Selama ini kamu
selalu masak sendiri karena Ibu terlalu sibuk. Atau kamu tidak suka dengan
masakan Ibu?” canda Ibu.
Meski terdengar bergurau, tetapi matanya
mendelik sinis. Mereka berdua memang tidak terlalu akrab karena selalu sibuk
dengan urusan masing-masing. Sesekali Chika memang mendengar Ibunya
membandingkan Alia dengan dirinya, mengatakan Alia belum cukup pintar, belum
cukup pandai. Tapi terkadang Chika merasa Ibunya membela Alia, walaupun dengan
cara yang berbeda. Ya, Chika sering agak risih dengan perhatian Ibunya ke Alia
yang... sedikit ganjil.
Chika cepat-cepat membuang muka. “Oh
bukan. Chika suka, tapi dari dulu Chika tidak pernah terpaksa melakukan
semuanya sendiri jadi sudah biasa. Jadi agak aneh saja kalau tiba-tiba
dibuatkan Bu,” Jawab Chika, berusaha sewajar mungkin.
“Nah sudah diputuskan kalau begitu.
Sebentar lagi ayahmu juga pulang, katanya pekerjaannya selesai lebih awal. Jadi
siang ini kita bisa makan keluarga bukan?” Ibu menepuk tangannya tanda semuanya
sepakat. Ia langsung buru-buru ke dapur sambil bernyanyi pelan meninggalkan
Chika yang diam-diam mendengus kesal.
***
Chika memutuskan kembali ke kamarnya.
Mandi dan segera berganti pakaian. Tidak ada lagi masalah detergen atau
barang-barang pribadinya. Semua bersih. Semua sudah ia bereskan. Menghilangkan
keberadaan Alia—dengan mudah, lalu menyingkirkan Bu Sumi dengan rencana
sempurna. Tidak akan ada bukti bahwa Chika yang membunuh mereka berdua. Malam
ini akan jadi penyelidikan terakhir untuk polisi sebelum kasus bu Sumi resmi
dinyatakan kasus kecerobohan semata. Chika menyeringai senang membayangkan
semua kejahatan yang ia susun sempurna tanpa celah.
“Lebih baik aku pura-pura tidur sampai
malam biar tidak usah makan masakan Ibu. Sehari saja tidak makan bukan
masalah,” gumam Chika sambil memutar matanya.
Tapi tiba-tiba dia menyadari sesuatu yang
berbeda di kamarnya.
Sebuah sarung tangan.
Dan botol cairan berisi racun tikus.
Kenapa bisa ada di meja belajar Chika? Ia
yakin sudah membuangnya ke Sungai yang mengalir deras dan jauh dari lokasi
rumahnya untuk menghilangkan bukti yang tersisa. Ini aneh. Kenapa dua benda
mengerikan itu ada di meja kamarnya.
Chika menarik napas. Pelan-pelan mendekati
sarung tangan dan botol racun itu. Ia mengamati dengan teliti apakah benar
benda-benda itulah yang ia pakai di hari kejadian.
Bukan.
Meski bentuknya pasti mirip, Chika yakin
itu bukan benda yang ia gunakan. Ini masih baru. Sarung tangannya belum
terpakai dan botol cairan itu juga masih penuh. Lalu siapa yang menaruhnya
disini? Untuk apa?
Oh, sekali lagi Chika terkejut. Laptopnya
menyala! Kuliah tadi ia memang meninggalkannya di kamar, karena tidak sedang
butuh. Tapi ia selalu meneliti semua barangnya dan sekali lagi ia yakin sudah
mematikan laptopnya semalam. Siapa yang berani masuk ke kamarnya yang terkunci
dan mengutak-atik laptop itu?
Sial! Lihat saja kalau aku tahu siapa yang
melakukan ini! geram
Chika dalam hati. Mukanya sudah merah padam menahan kesal.
Chika menghidupkan laptop yang sedang pada
mode hibernate itu.
Mengecek kalau-kalau ada hal lain lagi.
Ada sebuah video.
Video yang sepertinya sengaja tidak
ditutup sehingga jendela media playernya masih muncul di halaman depan.
“Video apa ini! jangan-jangan ini virus!” Pekik Chika. Ia
tidak mau langsung memutar video itu karena khawatir virus akan menyebar di
laptopnya.
Ini jebakan! Aku tak akan tertipu! umpat Chika dalam hati.
Tiba-tiba pintu kamar Chika terbuka.
Padahal ia sudah menguncinya, tapi siapa yang bisa masuk selain orang-orang
yang memegang kunci cadangan lain? Cuma satu orang yang bisa...
“Ayah? Kenapa ada disini?” Chika
terkejut—untuk kesekian kali. Sosok pak Dhewa sudah berdiri gagah di depannya.
“Kenapa tidak kau putar video itu? Tenang
saja tidak usah takut. Atau kau mau aku yang memutarkannya untukmu, wahai Chika
anakku?” ucap pak Dhewa. Garis wajahnya yang tegang menunjukan isyarat bahwa
Chika harus melakukan permintaan itu sekarang. Ah bukan, perintah lebih
tepatnya.
Chika meneluhkan keringat dingin. Detik
demi detik video itu terputar secara jelas. Jelas sekali—reka ulang adegan
Chika memasukan racun tikus ke dalam air minum bu Sumi. Kemudian bu Sumi datang
dan meminum air itu sehabis menyapu lantai, meminumnya dan langsung melenggang
nyawa.
Bukan seperti laporan
sementara kepolisian, yang menyatakan kasus itu kecerobohan Ibu Pembantu Rumah
Tangga yang lupa mencuci tangannya setelah menaruh jebakan racun di makanan
tikus kemudian tidak sengaja terminum racun tikus itu saat hendak minum. Alasan
terkuatnya adalah Bu Sumi kadang pikun ditambah di tangan Bu Sumi yang masih
tersisa ceceran racun itu.
Tunggu sebentar.
Chika mendadak ingat kalau ia tidak—ia
tidak mencecerkan racun itu di tangan bu Sumi! Ia terlewat memikirkan detail
kecil itu. Tapi kenapa, kenapa waktu itu polisi mengatakan hasil pemeriksaan
seperti itu!
“Kau ternyata tidak secerdas yang dirimu
bayangkan bukan?” suara serak pak Dhewa menggegerkan lamunan panik Chika.
“Ap—apa maksud Ayah? Chika tidak menger—“
tanya Chika tergagap. Wajahnya mulai pucat.
“Aku yang melakukannya. Sebagai tambahan
dari rencanamu yang nyaris sempurna. Nyaris, tapi belum. Kalau aku tidak
membantumu, kau sudah mendekam di kantor polisi.” Potong pak Dhewa cepat dan
langsung menambahkan, “Kau sudah gagal di kasus pertama, saat kau memaksa Alia
memakan semua pil tidur yang kau siapkan, tanpa tahu kalau aku selalu memasang
kamera dimana-mana,”
“Kau adalah penerusku nanti, Chika. Aku
melindungimu. Sini, peluk Ayah.”
Pak Dhewa merentangkan tangannya, menanti
Chika. Chika mengusap wajahnya lalu menghambur ke dalam pelukan sang Ayah.
Saat itulah besi tajam menusuk jantungnya.
Alat penghancur batu es itu menancap
persis di dada Chika, dalam hitungan detik.
“Apa yang Ayah la—kukan,” Chika tergagap
lagi. Bukan karena takut, sekarang karena napasnya mulai tercekat, darahnya
mulai menetes deras.
“Aku tidak mau membawamu ke kantor polisi.
Itu akan merusak nama baikku.” Jawab pak Dhewa ringan.
“Aku sudah cukup kesal karena Alia merusak
reputasiku dengan masuk rumah sakit jiwa, dan aku menyelamatkanmu karena tidak
mau pers berdatangan dan memberitakan anak sebagai penjahat. Tapi kau—“ pak
Dhewa menggeram, melotot tajam ke arah Chika yang sudah sekarat. Tanpa kasihan
sama sekali.
“—kau membunuh bu Sumi, ibu
kandungku!”
Pak Dhewa memukul dinding meluapkan
kemarahannya. “Kau lebih pantas dibunuh daripada masuk polisi dan tetap hidup.
Lagipula dengan begini kau akan dikenang bunuh diri karena frustasi akan
adikmu. Aku akan jadi lebih terhormat.” Tambah pak Dhewa sambil tertawa keras.
***
Malam itu polisi menemukan tiga mayat
tergeletak tak berdaya. Mereka bisa dengan cepat mendeteksi kematian seluruh
anggota keluarga itu lewat video di kamar pak Dhewa—yang ternyata ia
sembunyikan di brankas rahasia. Setelah tahu keberadaan video itu, polisi sadar
telah melewatkan hal penting yaitu adanya kamera tersembunyi yang ternyata
selalu dikecoh oleh pak Dhewa.
“Malang sekali mereka.” Seorang polisi
yang merupakan kepala dari anak buahnya menggeleng prihatin.
“Ini mimpi buruk, pak Kepala. Saya baru
saja menemukan semua kamera yang merekam seluruh kejadian. Termasuk percakapan
mereka.” Beberapa polisi menghampiri bos mereka.
Kepala polisi itu hanya mengangguk lemah.
Ia melirik kepada lelaki yang masih memakai snaily nya, lelaki yang
bergegas datang setelah ditelfon oleh kepala polisi itu.
“Apa yang salah pak Joyo? Kenapa mereka
semua bisa saling membunuh seperti ini?” tanya polisi itu. Meskipun sudah
sering menangani kasus, rasanya tetap saja ia akan mempertanyakan pembunuhan
yang dilakukan oleh manusia.
“Pak Dhewa melindungi Chika yang membunuh
Alia, tapi kemudian balas dendam karena Chika juga membunuh bu Sumi, yang
ternyata ibu kandung pak Dhewa. Itu semua karena harga diri pak Dhewa yang
terlalu mencintai kekayaan dan reputasinya. Seandainya tidak begitu, ia akan
langsung bertindak bijak di kasus pertama, bukan melindungi Chika. Di tambah
lagi pak Dhewa yang menyembunyikan identitas bu Sumi dari anaknya
sendiri—karena malu sang Ibu dari kampung dan sudah pikun.”
“Chika, yang selalu diagungkan dan dipaksa
menuruti kemauan keluarganya demi penerus bisnis, sebenarnya juga merasa
tertekan. Ia mengalihkan stress dan kegilaannya dan mengidap penyakit kejiwaan
OCD—penyakit takut kotor secara berlebihan.”
Kepala polisi itu mengangguk. Membenarkan
hal itu.
“Sedangkan Ibu Arisa—yang kemudian
membunuh pak Dhewa karena tahu melindungi Chika yang membunuh anak
kandungnya—Alia, dia—“ pak Joyo menghentikan ucapannya sejenak. Tenggorokannya
tercekat karena harus menceritakan fakta yang dia temui.
“Dia berbohong bahwa Alia adalah anak
adopsi, padahal itu semua karena ia tidak ingin Alia mewarisi bisnis pak Dhewa.
Ibu Arisa melindungi Alia. Ia menyayangi Alia, sampai tega menikam suaminya
dari belakang.” Pak Joyo menyeka air matanya sekilas lalu melanjutkan, “Terlalu
menyedihkan juga ketika setelah itu ternyata dia bunuh diri dengan meminum
pil-pil tidur, sebotol obat itu adalah sisa dari dua botol yang dibeli Chika
untuk membunuh Alia.”
Kepala polisi itu memejamkan matanya.
Berusaha menghapus semua kekejian yang terjadi. Malam itu—ketika penyelidikan
terakhir seharusnya ditutup dengan wajar dengan kematiaan bu Sumi yang benar
kecerobohan, malah diakhiri dengan kenyataan tragis.
“Saya sudah mengingatkan keluarga ini
berkali-kali. Mereka terlalu mementingkan uang dan pekerjaan. Pak Dhewa dan Ibu
Arisa terlalu sibuk mengejar dunia—tanpa sadar anak-anaknya didik dengan cara
yang salah.”
Kepala polisi lalu bertanya, “tapi
bukankah sebenarnya mereka semua memiliki cinta, betul begitu pak Joyo?”
“Cinta yang berlebihan, bukan cinta
namanya. Mereka malah berakhir mencintai diri sendiri.”
Kepala polisi itu masih menggeleng tak
percaya. Tiga nyawa hilang karena cinta yang salah.
“Lalu, apalagi yang salah pak? Apakah
benar kalau ini semua terjadi karena balas dendam?”
Pak Joyo menghela napas panjang. Lalu
berkata, “Ya. Ini pembalasan. Sebuah retaliation,”
“Dan tidak ada yang benar tentang sebuah
pembalasan.”
THE END
Cerita ini
awalnya merupakan cerita pendek yang berjudul "Alia". Kisah pertama
itu menceritakan soal Alia, si anak bungsu yang menderita penyakit mental Narcisissist
Disorder Personality. Namun atas dasar usulan dari teman saya, cerita itu
kemudian dilanjutkan dengan pergantian tokoh utama dari Alia menjadi Chika, si
anak pertama yang ternyata juga menderita penyakit mental Obsessive
Compulsive Disorder (OCD) yang akhirnya digabungkan menjadi sebuah
cerita berjudul "Retaliation".
Dalam kisah
ini, sebenarnya penulis ingin memberikan gambaran bahwa fondasi awal sebuah
keluarga adalah didikan dan lingkungan yang diberikan oleh orang tua. Hasil
dari semua harapan dan cita-cita yang terbangun memberikan efek yang sangat
kuat kepada sang anak. Sebuah penyakit mental, memang terdengar sepele dan
tidak penting. Bahwasanya kasus seperti yang diceritakan di atas cukup jarang
terdengar di negara Indonesia padahal sebenarnya tidak jarang bahwa sadar tidak
sadar, semua orang punya kecenderungan untuk mempunyai gangguan kejiwaan meski
dengan kadar yang berbeda-beda.