Peri Air? (2)

04.15

Sepertinya dia tidak datang hari ini.
            Aku menghela nafas. Lagi-lagi menengok sesekali ke arah pintu perpustakaan setiap kali ada yang datang.
            Bukan dia. Bukan juga dia. Ada lagi yang datang. Tetap bukan dia.
            Aku mulai mencoba membaca buku yang sedari tadi kupegang. Membuka setiap halaman secara perlahan. Sebenarnya buku ini cuma kamuflase. Iya, tidak lebih untuk menghindari kalau-kalau pertanyaan temanku tadi terulang lagi.
            Sampai aku sadar kalau buku ini sepertinya sudah sedikit rusak. Ada beberapa halaman yang menempel satu sama lain. Untuk ukuran buku perpustakaan disini, kertasnya yang berwarna kecoklatan membuat buku ini terlihat sangat usang. Dan lagi, kenapa ada bercak-bercak air berwarna merah yang...
            Masih basah!
“Hei, sepertinya ada orang yang tidak sengaja membasahi buku ini dengan cat air merah!” Seruku panik. Aku terpaksa mengguncang pelan tubuh temanku yang tadinya enggan menoleh. Bukan urusanku kalau buku disini kotor atau rusak. Masalahnya, buku ini sedang dipegang olehku.  
“—Sungguh ini bukan aku yang melakukannya.” Aku dengan cepat menambahkan sambil langsung melirik kesana kemari. Mencari si petugas perpustakaan yang sering mendelik jahat kepada orang-orang yang membuat masalah.
“Melakukan apa? Mana cat airnya?” Temanku bertanya heran kepada aku yang baru saja menghembuskan nafas lega karena melihat tidak ada petugas perpustakaan yang sedang berjaga.
“Eh,” Aku terkejut. Bercak-bercak berwarna merah tadi sudah hilang tanpa bekas. Apa aku cuma salah lihat? Tapi aku merasakan ada aroma aneh yang tercium di jariku yang tadi menyentuh bercak itu. Ini seperti bau apa ya?
Pasrah ketika melihat temanku sudah kembali berkutat dengan laptop dan tugasnya, akupun membalik ke halaman selanjutnya. Tapi hanya ada halaman kosong. Barulah kira-kira di halaman yang sudah mencapai setengah buku itu, ada kalimat-kalimat pendek yang dicetak tebal dan huruf miring.
Aku merasa sedikit berdebar-debar. Meneluhkan keringat. Seperti habis menemukan sesuatu, aku memutuskan untuk benar-benar membaca kata demi kata yang tertulis di buku ini. Bunyinya:

Kamu bisa pergi ke tempat yang sangat indah. Dimana kamu bisa menemukan kebahagiaan yang abadi. Harapan dan keinginanmu bisa dikabulkan. Apapun. Dia bisa membuatmu mewujudkan semua mimpi yang kamu harapkan. Caranya mudah, kamu cuma cukup mencari sebuah danau yang dikelilingi dengan pohon-pohon, dan rumput-rumput ilalang tinggi. Tapi ingat, kamu harus datang tepat di jam 12.00. Tidak usah khawatir, kamu bisa datang di siang hari. Asalkan jangan lupa, ucapkan tiga kali, “Wahai peri air, datanglah. Aku disini.”
p.s.: Kamu tidak bisa melakukannya jika tidak bersungguh-sungguh dan memiliki kemauan yang kuat. 

Aku tertawa renyah. Sejenak aku heran kenapa lelucon seperti ini bisa dituliskan di dalam sebuah buku. Memutuskan untuk tidak peduli, aku menutup buku itu dan pergi ke toilet. Sepertinya jilbabku sedikit berantakan. Aku harus membetulkannya sebelum dia yang kutunggu itu datang. Begitu pikirku.
Namun karena sifatku yang ceroboh, jarum pentul tidak sengaja menusuk jariku. Karena bergolongan darah A, darah merah segar yang bercucuran membuatnya terlihat sedikit banyak. Dengan sigap aku menghisapnya agar darah itu berhenti. Dan seketika itu aku tertegun. Wajahku kebas.
            Bau ini. Aku baru ingat kalau seperti ini bau darah. Jadi, bau yang kucium di buku tadi itu bau darah?

You Might Also Like

1 komentar

  1. Awalnya udah niat gak mau lanjut baca.. Eh ternyata tulisan ini addicting, bikin penasaran dan harus dibaca sampai tamat :D

    Mampir juga di sini yah. seikenramadhan.blogspot.com

    BalasHapus

Subscribe