I'm not a librarian tho (1)

01.33


“Kamu kesini lagi?”
Aku menoleh, “Oh iya, kosan bukan tempat yang baik untuk bersantai.”
Temanku itu terkekeh, menaruh tas di loker dan segera duduk disampingku. Pagi itu, perpustakaan memang masih sangat sepi. Tapi entah kenapa selalu saja ada satu orang yang sudah menyenderkan bahunya dengan nikmat. Itu aku.
“Tapi kamu kan bisa pulang saja ke rumah.”
Aku menggeleng, mencoba menjelaskan. “Selalu ada alasan untuk kembali kesini kan?”
Tapi sepertinya itu bukan penjelasan yang baik. Temanku masih saja menatapku penasaran. Meskipun kalau kuingat, pertanyaan yang sama sudah aku dengar ribuan kali.
“Oke, aku tahu ini aneh. Tapi kebahagiaan biasanya sering datang tiba-tiba kan? Hm maksudku—begini,”
Temanku meraih selembar kertas di atas meja, sepertinya sejenis laporan penting. Ia mulai mengetik sambil sesekali menatap ke arahku. Aku tahu betul, kebanyakan orang akan datang kesini ketika ada urusan. Meskipun itu tidak berlaku buatku. Aku selalu datang meski tak ada yang sedang kukerjakan.
Aku terdiam sebentar, ragu untuk melanjutkan.
“Oh, aku masih mendengarkan kok, teruskan saja.”
Well, rumahku sedang dalam renovasi dan itu selalu membuatku malas berlama-lama disana. Bukan cuma soal tensi yang memanas karena alasan ini-itu, tapi kamu tahu kan kalau hidungku ini terlalu pemilih?”
“Kamu memang pemilih, kan?” Temanku mulai mendelik sinis, sengaja mengejek.
“Bukan itu.” Aku tertawa pelan kemudian meneruskan, “Aku ini sedikit alergi debu.”
“Oh, masuk akal. Cuma karena itu? Lalu kenapa bawa kebahagiaan segala?”
Aku menelan ludah, sadar kalau di awal sudah salah bicara.
“Aku—cuma merasa hampa.”
“Hampa karena tidak ada kegiatan? Oh ayolah, kamu punya banyak pekerjaan yang bisa dilakukan. Seminar proposal sudah selesai? Belum lagi job MC, lalu  freelance menulis di—apa  namanya? ID—IDNtimes kan? Kamu sudah terlalu sibuk untuk bilang ‘hampa’.”
            “Justru itu masalahnya. Lari kesana kesini itu kadang melelahkan. Aku butuh sesuatu yang lebih sederhana. Semacam—senyuman. Mungkin.”
            Aku menghela nafas perlahan. Melirik jam tanganku sebentar. Sementara temanku sudah mulai tidak sabar. “Maksudnya apa?” tanyanya lagi.
            “Ayolah, kenapa aku jadi di interogasi begini?”
            “Coba aku tebak, kamu bukan sedang menunggu seseorang kan?”
            Aku berpikir sejenak. Sambil mulai merasa sedikit tertarik dengan buku yang tergeletak malang di meja. “Mungkin.” kataku.
            “Bohong. Kamu bahkan tidak suka melirik manusia kalau tidak ada urusan pekerjaan.”
            “Luar biasa. Aku tidak sedingin itu.”
            Temanku mengangkat bahu. Tersenyum mengejek. “Mungkin.” Katanya sambil terkekeh.

You Might Also Like

0 komentar

Subscribe