Peri Air (The End)
00.38
Aku yang shock membuat tubuhku kehilangan keseimbangan. Anehnya, aku tidak terjatuh. Seseorang menahanku.
“Tira, kamu 'gak papa?” katanya sambil tersenyum. Seakan tidak melihat apapun di depannya, dia yang ternyata adalah Rei—bertanya lagi dengan lembut, “Tadi aku cariin di perpus kok gak ada?”
Apakah Rei adalah orang yang sangat pemberani, sampai melihat mayat saja tidak membuatnya takut sama sekali?
“Kamu gak masuk kelas Rei?” Aku berusaha mengabaikan. Setidaknya, kejadian ini memang sudah masuk sebagai rencana yang dikatakan peri air kan? Aku tidak harus merasa frustasi atau semacamnya.
Rei menggeleng. Kemudian menggenggam tanganku. “Ke dalam aja yuk. Disini dingin.”
Aku mengangguk senang. Bukankah ini yang kuharapkan? Membuat Rei—orang yang kusukai menjadi milikku. Tanpa perjuangan apapun, dia yang bahkan belum mengenalku adalah kekasihku sekarang. Peri air memang hebat.
Hari berikutnya, aku menangis histeris. Aku yang sejam lalu masih menikmati makanan bersama dengan Rei di sebuah cafe, melihat mahasiswi kampusku mati mengenaskan—tepat di depan mataku karena keracunan. Dia yang katanya menyelipkan surat di dalam tasnya dengan mengatakan sengaja bunuh diri tidak lantas membuatku tenang begitu saja. Tubuhnya yang kejang-kejang sebelum menemui ajal, seakan menatapku meminta pertolongan.
Dia seakan mengatakan kalau yang membunuhnya adalah aku!
“Tira, kamu ‘gak papa?” Rei memeluk tubuhku yang gemetar. Tangannya kini mengusap rambutku dan bertanya dengan lembut, “Kita pulang aja yuk.”
“Rei, kamu cinta aku kan?” Kataku, di sela-sela tangisanku yang belum juga berhenti.
Rei tersenyum dan mengangguk mantap. “Iya. Aku cinta kamu.”
Pernyataan cinta dari Rei membuat hatiku perlahan membaik. Aku menghela nafas sedalam mungkin, dan balas memeluk Rei—seerat yang aku bisa.
“Kamu hangat ya. Aku bahagia kamu ada disini.”
***
“Tira, kamu pulang jam berapa hari ini? Jadi kan kita coba tempat makanan baru di dekat kampus sore nanti?” Amelia melirik ke arahku yang sudah siap pergi ke kampus.
Setelah kejadian berturut-turut dua hari yang lalu itu, hari ini aku hanya akan bertemu Rei di perpustakaan saja. Kalau seandainya ada lagi keributan di luar seperti waktu itu, aku akan memilih pura-pura tidak dengar apapun.
Ini akan segera berakhir setelah tiga korban yang ditetapkan oleh peri air—menghilang selamanya. Aku hanya perlu sedikit bersabar.
“Maaf ya Amel, kayaknya aku belum bisa. Minggu depan aja ya?”
Kening Amelia berkerut tanda ingin protes. Tapi aku segera berlalu pergi sebelum dia menyelesaikan ucapannya.
Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling perpustakaan. Kini aku tidak perlu lagi susah payah mengira-ngira kapan dia datang: atau apakah dia akan datang. Rei—sudah pasti menungguku disini.
“Hai, tumben kamu agak lama datangnya. Kangen deh.” Rei terkekeh.
Aku tersenyum. Menunduk malu. Wajahku pasti mulai memerah layaknya tomat busuk.
Setelah dua jam tak terasa bercerita bersama Rei, aku baru ingat harus mengambil laptopku di loker. Ada beberapa tugas penting yang harus kucicil. Dan beberapa lagu yang ingin ku download dengan menggunakan wifi gratis. Tapi lagu-lagu itu judulnya apa saja ya?
Aku yang sedang berusaha mengingat hampir saja menjatuhkan laptop saat mencoba meraihnya ketika tiba-tiba dikagetkan sebuah suara yang menepuk pundakku.
“Tira, kapan-kapan kita main sama-sama di tempat makanan baru itu ya?”
Ternyata Amelia! Tadi pagi dia bilang ingin tidur saja di kosan. Lalu kenapa dia ada di kampus?
“Meskipun sepertinya tidak akan ada hari itu lagi.”
Aku terperanjat. Amelia mengeluarkan pisau dari balik tangannya.
“Selamat berbahagia. Dan, selamat tinggal.”
Amelia menancapkan pisau itu ke lehernya dengan keji. Darah segar mengalir deras. Percikan darah sempat mengenai wajahku yang berjarak sangat dekat dengan Amelia.
“Tidaaak!” Aku berteriak sekencang mungkin. Menangis tak tertahan. Semua orang mulai berkerumun melihat mayat Amelia yang tergeletak tak bernyawa. Rei—tanpa melihat Amelia langsung menarikku keluar dari perpustakaan.
“Tira, kamu ‘gak papa?” Rei bertanya padaku, ketika kami sampai di taman sekitar kampus. Tidak berbeda dengan dua hari lalu. Menanyakan kabarku. Menatapku lembut. Terseyum ke arahku.
Tidak ada raut wajah kepanikan sama sekali diwajahnya. Tidak ada reaksi normal apapun di mata Rei. Ketakutan atau kengerian sehabis melihat kejadiaan naas dan kejam. Rei cuma terlihat sangat jatuh cinta. Pria yang mabuk cinta.
Padahal Amelia, adalah sahabat yang sudah bersamaku sejak awal masuk kuliah. Kami selalu mendengarkan keluh kesah. Soal Amelia yang patah hati, dan soal aku yang sering sakit hati. Meski kadang bertengkar, Amelia yang paling tahu saat aku berada dalam puncak kesedihan dan kesusahan.
Tapi sekarang, nyatanya Amelia mati dihadapanku.
“Rei, could you kiss me?” Kataku.
Amelia adalah tumbal yang terakhir. Mengingatnya lagi, air mata kini sudah mengaliri seluruh pipiku. Mengalir deras tanpa henti.
Amelia adalah tumbal yang terakhir. Mengingatnya lagi, air mata kini sudah mengaliri seluruh pipiku. Mengalir deras tanpa henti.
Rei mengangguk tanpa pertanyaan apapun. Menciumku tanpa keraguan. Matanya terpejam. Kehangatan terasa dari balik pelukannya. Aku menikmati setiap sentuhan yang dia berikan. Memeluk tengkuknya, menggenggam tangannya.
Namun kepalaku tiba-tiba terasa amat sakit. Aku memegangi kepalaku sampai seluruh tubuhku bergetar. Sebuah suara entah darimana asalnya berdenging di telingaku. “Sekarang saatnya kau memilih, melanjutkannya atau mengulangnya kembali dari awal?”
***
Aku sekarang berada di tempat yang sama. Perpustakaan. Tempat dimana aku menemukan buku ajaib itu.
Sudah lama aku terus menunggu dengan sabar di perpustakaan. Sambil terus mengamati Rei yang biasanya datang. Dengan membayangkan apa saja yang bisa kulakukan dengannya saat aku berhasil mendatangkan peri air. Dan terus saja mengutuk setiap orang-orang yang bisa ada di dekat Rei.
Peri air katanya bisa mengabulkan permohonan. Melakukan perjanjian dengan peri air sebenarnya tidak jauh berbeda dengan melaksanakan perjanjian dengan setan. Meskipun bagiku, itu mudah.
Mataku mulai mencari seseorang. Rei, pria yang kucintai.
Dia tersenyum ramah, kepada salah seorang teman yang sedang menyapanya. Aku memanggil Rei. Kami duduk bersama dan tersenyum bahagia. Namun teriakan histeris menggema di seluruh ruangan. Kerumunan kembali muncul.
Teman Rei terkapar tak berdaya. Mulutnya mengeluarkan busa-busa putih dan matanya melotot ke atas. Entah karena apa, dia juga mencekik dirinya sendiri. Tangan dan kaki nya menggelepar kesakitan. Baru tiga puluh detik kemudian, dia melenggang nyawa, lagi-lagi seakan menatap ke arahku.
Tidak lagi berteriak, aku cuma mengernyitkan dahi. Bersembunyi di belakang Rei, sembari mencium aroma tubuhnya yang lembut. “Rei, aku takut.”
“Tira, kamu ‘gak papa kan?”
Aku mengangguk. Menyeringai senang.
Peri air benar. Kalau aku memutuskan untuk meneruskan permohonanku, bukan hanya tiga orang yang akan jadi tumbal. Setiap harinya—untuk mempertahankan cinta Rei untukku, harus ada satu tumbal yang mati. Dan kali ini, hebatnya aku bisa memilih siapa saja yang harus menghilang—lenyap tanpa jejak.
Hebatnya lagi, esok hari tidak ada yang mengingat orang-orang yang mati itu. Orang-orang yang sudah mati karena persyaratan dari peri air seakan-akan memang tidak pernah lahir karena tidak ada ingatan sedikitpun tentang kehidupan mereka. Itu artinya, aku bisa memilih sebanyak apapun orang yang ingin aku jadikan tumbal.
Contohnya orang-orang yang mencoba mendekati Rei-ku. Mereka semua menjijikan!
Peri air yang sebelumnya tidak menjelaskan persyaratan ini, membuatku sempat ragu-ragu waktu itu. Kalau cuma tiga orang yang dijadikan tumbal, bagaimana aku bisa membuat Rei bertanya khawatir padaku, sembari memeluku erat?
Namun kepalaku tiba-tiba terasa amat sakit. Aku memegangi kepalaku sampai seluruh tubuhku bergetar. Sebuah suara entah darimana asalnya berdenging di telingaku. “Sekarang saatnya kau memilih, melanjutkannya atau mengulangnya kembali dari awal?”
***
Aku sekarang berada di tempat yang sama. Perpustakaan. Tempat dimana aku menemukan buku ajaib itu.
Sudah lama aku terus menunggu dengan sabar di perpustakaan. Sambil terus mengamati Rei yang biasanya datang. Dengan membayangkan apa saja yang bisa kulakukan dengannya saat aku berhasil mendatangkan peri air. Dan terus saja mengutuk setiap orang-orang yang bisa ada di dekat Rei.
Peri air katanya bisa mengabulkan permohonan. Melakukan perjanjian dengan peri air sebenarnya tidak jauh berbeda dengan melaksanakan perjanjian dengan setan. Meskipun bagiku, itu mudah.
Mataku mulai mencari seseorang. Rei, pria yang kucintai.
Dia tersenyum ramah, kepada salah seorang teman yang sedang menyapanya. Aku memanggil Rei. Kami duduk bersama dan tersenyum bahagia. Namun teriakan histeris menggema di seluruh ruangan. Kerumunan kembali muncul.
Teman Rei terkapar tak berdaya. Mulutnya mengeluarkan busa-busa putih dan matanya melotot ke atas. Entah karena apa, dia juga mencekik dirinya sendiri. Tangan dan kaki nya menggelepar kesakitan. Baru tiga puluh detik kemudian, dia melenggang nyawa, lagi-lagi seakan menatap ke arahku.
Tidak lagi berteriak, aku cuma mengernyitkan dahi. Bersembunyi di belakang Rei, sembari mencium aroma tubuhnya yang lembut. “Rei, aku takut.”
“Tira, kamu ‘gak papa kan?”
Aku mengangguk. Menyeringai senang.
Peri air benar. Kalau aku memutuskan untuk meneruskan permohonanku, bukan hanya tiga orang yang akan jadi tumbal. Setiap harinya—untuk mempertahankan cinta Rei untukku, harus ada satu tumbal yang mati. Dan kali ini, hebatnya aku bisa memilih siapa saja yang harus menghilang—lenyap tanpa jejak.
Hebatnya lagi, esok hari tidak ada yang mengingat orang-orang yang mati itu. Orang-orang yang sudah mati karena persyaratan dari peri air seakan-akan memang tidak pernah lahir karena tidak ada ingatan sedikitpun tentang kehidupan mereka. Itu artinya, aku bisa memilih sebanyak apapun orang yang ingin aku jadikan tumbal.
Contohnya orang-orang yang mencoba mendekati Rei-ku. Mereka semua menjijikan!
Peri air yang sebelumnya tidak menjelaskan persyaratan ini, membuatku sempat ragu-ragu waktu itu. Kalau cuma tiga orang yang dijadikan tumbal, bagaimana aku bisa membuat Rei bertanya khawatir padaku, sembari memeluku erat?
| Art: @maulidaayusp Illustration: @athirmhmmd |
0 komentar