Konsep Diri (1)

22.18


Halo, Apa kabar? x_x
Ketemu gue lagi nih cieeee hehe #abaikan
“Maulida gedenya mau jadi apa?”
“Jadi dokter!”
Inget waktu gue kecil, kalau ditanya ya begitu jawabnya, padahal setelah gue pikir, gue jawab begitu karena ikut-ikutan aja, walaupun pengen juga sih, tapi takdir berkata lain. Baydeweeey lupakan itu, hm, gue pernah bilang gak kalau gue tertarik psikologi? Asik loh ngamatin sifat-sifat orang, kejadian aneh, atau  gejala manusia-manusia dan sebab-sebabnya. #apasih
Badewey lagi, gue pernah bilang gak kalau gue juga pengen komunikasi? Hehe tapi kayaknya Universitas Indonesia masih belum sanggup menerima orang kreatif kaya gue. (ada buku yang bilang: orang kreatif biasanya agak gila—okeskip).
intinya, gue pengen share tentang buku yang berhasil gue temukan di tempat paling luar biasa—gudang bawah tanah—dengan judul “Psikologi Komunikasi”. Pas banget kaaan, ihiy, bentar ya gue pilih-pilih dulu yang menarik—walaupun hampir semuanya—nah ini dulu nih, gue comot tentang konsep diri, sering denger kan tentang pencarian jati diri? Nah sebenernya ada faktor-faktor pencipta sikap ituloh. yuk monggo dibaca yuk^^

Faktor-faktor yang mempengaruhi Konsep Diri.
Ø    Orang lain
Gabriel Marcel, filsuf eksistensialis, yang mencoba menjawab misteri keberadaan, The Mystery of Being, menulis tentang peranan orang lain dalam memahami diri kita. “The fact is that we can understand ourselves by starting from the other, or from others, and only by starting from them.” Kita mengenal diri kita dengan mengenal orang lain terlebih dahulu.

Children Learn What They Live
(by Dorothy Law Nolte)
 
If a child lives with criticism,
He learns to condemn.
If a child lives with hostility,
He learns to fight.
If a child lives with ridicule,
He learns to be shy.
If a child lives with shame,
He learns to feel guilty.
If a child lives with tolerance,
He learns to be patient.
If a child lives with encouragement,
He learns to be confident.
If a child lives with praise,
He learns to appreciate.
If a child lives with fairness,
He learns justice.
If a child lives with security,
He learns to have faith.
If a child lives with approval,
He learns to like himself.
If a child lives with acceptance and friendship,
He learns to find love in the world.

Ketika kita tumbuh dewasa, kita mencoba menghimpun penilaian semua orang yang pernah berhubungan dengan kita. Seperti misalnya—sebut saja Mawar—memperoleh informasi tentang dirinya dari kedua orang tuanya, kakak-kakaknya, tetangganya, gurunya dan sahabat-sahabatnya. Semua memandang Mawar sebagai gadis yang nakal. Mawar berpikir, “Saya nakal.” Ia menilai dirinya sesuai dengan persepsi orang lain—yang significant dan tidak—tentang  dirinya. Pandangan dirimu tentang keseluuruhan pandangan terhadap dirimu disebut generalized others. Konsep ini juga berasal dari George H. Mead. Memandang diri kita seperti orang lain memandangnya.
Waktu baca ini gue jadi inget pas dibilang sama nyokap, “Kamu kan kalau ngepel gak bersih.” Lo tau? Karena emang udah ‘dianggep’ begitu ya jadinya setiap gue ngepel asal-asalan aja. Toh gue udah ‘dicap’ kalau ngepel gak bersih. Meskipun kadang udah usaha buat meyakinkan nyokap—orang lain—kalau  kita gak kaya gitu. Tapi mau gimana lagi? Udah terlanjur, udah nempel. Kadang, mau gamau, hati kedua kita bilang, oh mungkin seperti itulah diri gue.
FYI juga, gue paham betul kalau didikan dengan pujian jika benar, peringatan jika salah emang bener banget. Seseorang yang dipuji ketika dapat nilai bagus contohnya, “Wah kamu pintar ya, Nak.” Pada diri anak tersebut pasti akan merasa dirinya dihargai, dan dia akan terus mencoba untuk tetap menjadi pintar. Karena orang lain membuat konsep diri pada dirinya bahwa dia pintar. Lain halnya jika seseorang yang tidak mampu mengerjakan sesuatu, lalu dikatakan, “Kamu bodoh. Kenapa yang begini saja tidak bisa.” Diri anak itu akan menganggap dirinya bodoh dan menyalahkan dirinya kenapa tidak bisa—dia akan benar-benar menjadi bodoh.
Atau peringatan jika salah itu terjadi misalnya, saat seorang anak pulang terlalu larut malam, jika orang tuanya tidak menegur atau memperingati, dia akan merasa bahwa tindakannya benar—normal saja, tidak salah—dan akan terus mempertahankan tersebut.
(lihat penjelasan lebih lengkap; Konsepsi manusia dalam Behaviorisme(2))

Ø    Diri Sendiri
            Setiap orang bertingkah laku sedapat mungkin sesuai dengan konsep dirinya. Bila seorang mahasiswa menganggap dirinya sebagai orang yang rajin, ia akan berusaha menghadiri kuliah secara teratur, membuat catatan yang baik, menghadiri kuliah dengan sungguh-sungguh. Jika seorang gadis merasa dirinya sebagai wanita yang menarik, ia akan berusaha berpakaian serapi mungkin dan menggunakan aksesoris yang tepat. Bila orang merasa rendah diri, ia akan mengalami kesulitan mengkomunikasikan gagasannya kepada orang-rang yang dihormatinya, tidak mampu berbicara di hadapan umum, atau ragu-ragu menuliskan pemikirannya dalam media massa.
            Kecenderungan untuk bertingkah laku sesuai dengan konsep diri disebut nubuat yang dipenuhi diri sendiri. Bila kamu berpikir anda orang bodoh, kamu akan benar-benar menjadi orang bodoh. Kamu berusaha hidup sesuai dengan label yang kamu lekatkan pada dirimu. Hubungan konsep diri dengan perilaku, mungkin dapat disimpulkan dengan ucapan: You don’t think what you are, you are what you think.
Menurut William D. Brooks dan Philip Emmert ada empat tanda orang yang memiliki konsep diri negative:
1.      Ia peka pada kritik.
 Orang ini sangat tidak tahan kritik yang seringkali dipersepsi sebagai usaha untuk menjatuhkan harga dirinya. Orang ini cenderung menghindari dialog yang terbuka, dan bersikeras mempertahankan pendapatnya dengan berbagau justifikasi atau logika yang keliru.
2.      Responsif terhada pujian. 
Walaupun ia mungkin berpura-pura menghindari pujian, ia tidak dapat menyembunyikan antusiasmenya pada waktu menerima pujian.
3.      Bersifat Hiperkritis.
Ia bersikap hiperkritis terhadap orang lain. Suka mengeluh, mencela, atau meremehkan apapun dan siapapun. Mereka tidak pandai dan tidak sanggup mengungkapkan penghargaan atau pengakuan pada kelebihan orang lain.
4.      Cenderung merasa tidak disenangi orang lain.
Ia merasa tidak diperhatikan. Karena itulah ia bereaksi pada orang lain sebagi musuh, sehingga tidak dapat melahirkan kehangatan dan keakraban persahabatan. Ia tidak akan pernah mempersalahkan dirinya, tetapi akan menganggap dirinya sebagai korban dari system social yang tidak beres.
5.      Pesimis terhadap kompetisi seperti terungkap dalam keengganannya untuk bersaing dengan orang lain dalam membuat prestasi. Ia menganggap tidak akan berdaya melawan persaingan yang merugikan dirinya.

Kenyataannya, memang tidak ada orang yang betul-betul sepenuhnya berkonsep diri negatif atau positif, tetapi sedapat mungkin setidaknya kita tahu apa yang cenderung termasuk tanda-tanda positif atau negatif, sehingga bisa memperkirakan kemana dan seharusnya seperti apa diri kita.

Gue jadi inget kata kata “Menerima diri kita apa adanya.” Well, di suatu kisah ada pasangan yang cowoknya itu seorang pencuri. Lantas dia bilang sama pasangannya, “Inilah gue, dan lo harus terima, pahami gue apa adanya.”
          Nah loh, kok gitu sih. Menerima apa adanya bukan berarti memberi alasan  untuk memaksa orang lain menerima suatu hal yang jelas-jelas buruk, salah, tidak sesuai. Toh kalau sesuatu itu sebaiknya diubah, apa salahnya? Kan memang menguntungkan—kedua belah pihak. Kecuali, kalau si pasangan meminta ini-itu dengan tujuan dirinya sendiri. Contoh, wanita yang selalu meminta si pasangan untuk berpakaian rapi, bagus, gagah atau apapun demi terlihat bermartabat, bergengsi demi teman-temannya. “Aku malu kalau kamu gak begini, begitu, bla bli blu bler.”         
 Selama kamu bisa menjadikan dirimu lebih baik, untuk apa mempertahankan watak yang buruk? Iyakan? Say if you have any other opinion
D.E. Hamachek menyebutkan sebelas karakteristik tanda-tanda konsep diri positif:
·         Ia meyakini betul-betul nilai-nilai dan prinsip-prinsip tertentu serta bersedia mempertahankannya, walaupun menghadapi pendapat kelompok yang kuat. Tetapi dia juga merasa dirinya cukup tangguh untuk mengubah prinsip-prinsip itu bila pengalaman dan bukti-bukti baru menunjukkan ia salah.
·         Ia mampu bertindak berdasarkan penilaian yang baik tanpa merasa bersalah yang berlebih-lebihan, atau menyesali tindakannya jika orang lain tidak menyetujui tindakannya.
·         Ia tidak menghabiskan waktu yang tidak perlu untuk mencemaskan apa yang akan terjadi besok, apa yang telah terjadi waktu yang lalu, dan apa yang sedang terjadi waktu sekarang.
·         Ia memiliki keyakinan pada kemampuannya untuk mengatasi persoalan, bahkan ketika ia menghadapi kegagalan atau kemunduran.
·         Ia merasa sama dengan orang lain, sebagai manusia tidak tinggi atau rendah, walaupun terdapat perbedaan dalam kemampuan tertentu, latar belakang keluarga atau sikap orang lain terhadapnya.
·         Ia sanggup menerima dirinya sebagai orang yang penting dan bernilai bagi orang lain, paling tidak bagi orang-orang yang ia pilih sebagai sahabatnya.
·         Ia dapat menerima pujian tanpa berpura-pura rendah hati, menerima penghargaan tanpa merasa bersalah.
·         Ia cenderung menolak usaha orang lain untuk mendominasinya.
·         Ia sanggup mengaku kepada orang lain bahwa ia mampu merasakan berbagai dorongan dan keinginan, dari perasaan marah sampa cinta, dari sedih sampai bahagia, dari kekecewaan yang mendalam sampai kepuasaan yang mendalam pula.
·         Ia mampu menikmati dirinya secara utuh alam brbagia kegiatan yang meliputi pekerjaan, permainan, ungkapan diri yang kreatif, persahabatan atau sekadar mengisi waktu.
·         Ia peka pada kebutuhan orang lain, pada kebiasaan sosial yang telah diterima dan terutama sekali pada gagasan bahwa ia tidak bisa bersenang-senang dengan mengorbankan orang lain.

 Jadi gimana? Kira-kira kamu punya berapa persen dari konsep diri positif? atau malah cenderung ke negatif? Syalalalala~


You Might Also Like

0 komentar

Subscribe