Perfeksionisme
16.18
SEMPURNA
(oleh: @maulidaayuSP).
Pernah berpikir untuk jadi selalu
sempurna? Pernah khawatir bahwa meskipun sudah berusaha sekuat tenaga, kamu
merasa belum cukup bagus? Pernah merasa tidak suka menerima kritikan? Kalau ada
yang tidak beres, apakah kamu bersikeras mengutuk diri sendiri, menuduh dengan
keji kalau kamu itu bodoh, tidak berbakat, dan tidak becus? Pernah kamu merasa
takut sekali gagal sehingga menunda bahkan tidak melakukan apa-apa?
Tenanglah, kalaupun kamu menjawab
ya, kamu sama sekali tidak sendirian. Sadar atau tidak, sedikit atau banyak,
kamu pasti pernah mengalami dilemik yang dinamakan perfeksionisme. Seperti saat
kamu ragu-ragu untuk tidak mengerjakan tugas karena memikirkan ketidakmampuan
untuk mengerjakannya—Ah, tugas ini sulit sekali. Sudah ku kerjakanpun harus
lagi-lagi kuhapus dan kuulang. Seperti ini jelek, ini juga masih kurang.
Bagaimana aku bisa mengerjakannya? Aku harus memikirkannya lagi sampai semuanya
benar.
Orang
perfeksionis seringkali terpaku pada detil, padahal kadang detil yang tidak
perlu. Misalnya saat mengerjakan makalah, ia akan mencurahkan perhatian
berlebih pada warna sampul, posisi streples yang miring atau tidak saat jilid,
kertas tidak lecek sama sekali,
bahkan stress jika satu huruf saja salah! Contoh lain adalah saat seorang
perfeksionis berhasil memesona hadirin dengan presentasinya, mendapat tepuk
tangan dan ucapan selamat, tetapi ia malah sibuk memikirkan kesalahan kecilnya
seperti adakah kotoran yang menempel di pakaiannya, rapikah rambutnya, kurang
banyakkah ia tersenyum atau hal tidak penting lainnya.
Banyak
hal yang menyebabkan orang perfeksionis biasanya membutuhkan waktu lebih lama
dibanding orang lain karena cenderung memaksakan diri dan membutuhkan usaha
ekstra untuk mengerjakannya. Kadang pekerjaan perfeksionis ini umumnya memang
memuaskan, tetapi tidak jarang sama saja dengan orang yang bekerja dengan waktu
yang lebih singkat.
Dalam
sebuah artikel yang muncul di sebuah situs web, seorang remaja putri bernama
Rachel menulis, “sewaktu saya baru masuk SMU, saya bertekad untuk berprestasi.
Saya mendapat nilai tertinggi, dan saya tidak melihat alasan mengapa hal itu
harus berubah.” Namun tidak lama kemudian Rachel memiliki masalah dengan
aljabar dan nilainya “hanya” sedikit di bawah nilai tertinggi, “Bagi semua orang,
itu adalah nilai yang baik.” Kenang Rachel. “tetapi bagi saya..itu sangat
memalukan. Saya mulai panik dan cemas.. saya takut meminta bantuan guru saya
karena saya merasa jika saya mengatakan butuh bantuan dalam mengerjakan aljabar
itu, maka sama saja mengaku tidak memahaminya. Terkadang saya nyaris meyakinkan
diri bahwa lebih baik mati daripada gagal.”
Berbagai
tingkatan ada pada perfeksionisme ini. Pencapaian kronis bahkan bunuh diri.
Pada dasarnya, sesuatu yang kekurangan akan kering—kelebihan akan tumpah.
Perfeksionisme berbeda dengan orang yang mengoptimalkan usahanya, berusaha
sebaik mungkin dan memiliki rasa ketidakpuasan sehingga memacu diri untuk
memperbaiki kesalahannya. Perfeksionisme sering kali terjerat oleh pemikirannya
yang sebenarnya semu, terkurung dalam angan-angan bahwa semuanya harus
sempurna—lengkap, tak secuilpun terdapat kesalahan. Padahal, tidak ada yang bisa
mengukur batas kesempurnaan itu sendiri. Seperti misalnya mengharapkan semua
orang menyukaimu, menghargaimu, mengakuimu—faktanya apa yang dimaksud dengan semua? Apakah semua temanmu? Semua yang
mengenalmu? Semua yang pernah bertemu denganmu? Atau semua yang ada di dunia
ini? Non sense.
Jadi,
buat kamu-kamu khususnya para peraih prestasi, harus bisa menempatkan semangat
juangmu dengan kestabilan mental yang benar. Karena salah-salah bukannya jadi
lebih baik justru terjun bebas di jurang landai nan curam. Bukannya meraih
cita-cita malah berakhir di rumah sakit jiwa. Tidak mau kan? Kuncinya satu aja sih, sayangi dirimu sendiri.
Love your self.
Ketika kamu merasa kalau kesempurnaan di atas segalanya, kamu tega menyakiti
dirimu saat harus me’nyempurna’kan tugasmu—lupa makan, tidak tidur, bahkan tak
jarang jatuh sakit apabila kegagalan datang. Menghindari perfeksionisme bukan
memberi alasan untuk mengerjakan sesuatu asal-asalan, namun sadari bahwa
tujuanmu bukanlah mencari kesempurnaan—melainkan kebahagiaan. Jika kamu
menyayangi dirimu, kekuatan untuk menyelesaikan segala hal dengan seluruh jiwa
dan raga tanpa terbebani dengan tujuan agar kebahagiaan datang—yang tidak
mungkin menginginkan hasil paling minimal—akan membantumu bangkit untuk kembali
mengusahakan kebahagiaan berikutnya, bukannya menambah penyiksaan atas dirimu
sendiri dengan terus merasa frustasi—bahkan memilih mati.
Hidup
bukan pilihan. Hidup adalah memilih pilihan. Kamu hidup bukan hanya karena kamu
telah terlanjur hidup. Tuhan sang
Pencipta telah menciptakanmu dengan kelebihan dan kekurangan—yang berarti
kesempurnaan. Maka nikmat mana lagi yang
kamu dustakan?
0 komentar