“Kamu
kesini lagi?”
Aku
menoleh, “Oh iya, kosan bukan tempat yang baik untuk bersantai.”
Temanku
itu terkekeh, menaruh tas di loker dan segera duduk disampingku. Pagi itu,
perpustakaan memang masih sangat sepi. Tapi entah kenapa selalu saja ada satu orang
yang sudah menyenderkan bahunya dengan nikmat. Itu aku.
“Tapi
kamu kan bisa pulang saja ke rumah.”
Aku
menggeleng, mencoba menjelaskan. “Selalu ada alasan untuk kembali kesini kan?”
Tapi
sepertinya itu bukan penjelasan yang baik. Temanku masih saja menatapku
penasaran. Meskipun kalau kuingat, pertanyaan yang sama sudah aku dengar ribuan
kali.
“Oke,
aku tahu ini aneh. Tapi kebahagiaan biasanya sering datang tiba-tiba kan? Hm
maksudku—begini,”
Temanku
meraih selembar kertas di atas meja, sepertinya sejenis laporan penting. Ia
mulai mengetik sambil sesekali menatap ke arahku. Aku tahu betul, kebanyakan
orang akan datang kesini ketika ada urusan. Meskipun itu tidak berlaku buatku. Aku selalu datang meski tak ada yang sedang
kukerjakan.
Aku
terdiam sebentar, ragu untuk melanjutkan.
“Oh,
aku masih mendengarkan kok, teruskan
saja.”
“Well, rumahku sedang dalam renovasi dan
itu selalu membuatku malas berlama-lama disana. Bukan cuma soal tensi yang memanas karena alasan
ini-itu, tapi kamu tahu kan kalau hidungku ini terlalu pemilih?”
“Kamu
memang pemilih, kan?” Temanku mulai mendelik sinis, sengaja mengejek.
“Bukan
itu.” Aku tertawa pelan kemudian meneruskan, “Aku ini sedikit alergi debu.”
“Oh,
masuk akal. Cuma karena itu? Lalu kenapa bawa kebahagiaan segala?”
Aku
menelan ludah, sadar kalau di awal sudah salah bicara.
“Aku—cuma
merasa hampa.”
“Hampa
karena tidak ada kegiatan? Oh ayolah, kamu punya banyak pekerjaan yang bisa
dilakukan. Seminar proposal sudah selesai? Belum lagi job MC, lalu freelance
menulis di—apa namanya? ID—IDNtimes
kan? Kamu sudah terlalu sibuk untuk bilang ‘hampa’.”
“Justru itu masalahnya. Lari kesana
kesini itu kadang melelahkan. Aku butuh sesuatu yang lebih sederhana. Semacam—senyuman.
Mungkin.”
Aku menghela nafas perlahan. Melirik
jam tanganku sebentar. Sementara temanku sudah mulai tidak sabar. “Maksudnya
apa?” tanyanya lagi.
“Ayolah, kenapa aku jadi di
interogasi begini?”
“Coba aku tebak, kamu bukan sedang
menunggu seseorang kan?”
Aku berpikir sejenak. Sambil mulai
merasa sedikit tertarik dengan buku yang tergeletak malang di meja. “Mungkin.”
kataku.
“Bohong. Kamu bahkan tidak suka
melirik manusia kalau tidak ada urusan pekerjaan.”
“Luar biasa. Aku tidak sedingin itu.”
Temanku mengangkat bahu. Tersenyum
mengejek. “Mungkin.” Katanya sambil terkekeh.