Peri Air (3)

00.47

    “Kamu lihat buku yang tadi aku baca disini tidak?” Aku bertanya cepat kepada temanku yang sekarang menatapku keheranan.

    “Buku yang itu kan?” Temanku menunjuk kepada satu-satunya buku yang ada di meja. “Daritadi tidak dikemana-manakan kok. Kan cuma ada buku itu di meja.”

    Aku menggeleng keras. Bukan yang itu. Jelas bukan. Itu kan buku legenda mahasiswa hubungan internasional: Morghentau-Politics Among Nations. Mana mungkin Morgenthau membicarakan tentang peri air segala?

    “Kamu kenapa sih? Nah, sekarang mau pergi kemana?” Temanku masih meneriakan namaku saat aku bergegas mengambil tas di loker dan beranjak pergi dari perpustakaan.

    Percuma saja menjelaskan. Aku harus segera bergegas. Mencari tempat yang sesuai dengan petunjuk yang ada di buku itu. Lagipula aku sudah hafal kata-kata yang tertulis disana tadi. Aku harus menemukan danau dan sampai tepat jam 12.00. Kalau memang benar yang tadi itu bau darah, jangan-jangan itu bukan cuma lelucon belaka kan?

    Aku tahu tidak sulit mencari danau yang sesuai dengan deskripsi di buku itu. Setelah berjalan sekitar 1 km, aku berhasil menemukan danau yang sesuai. Tempatnya tidak jauh dari area kampus. Hanya cukup sedikit memutar melalui gang sempit.

    Sekarang apa? Kalau tidak salah, ada semacam mantra yang harus aku ucapkan.

    “Wahai peri air datanglah, aku disini.”

    Aku yakin itu mantra nya. Setelah mengucapkannya sebanyak tiga kali, aku menunggu. Masih sangat antusias, aku menelusuri pandangan ke segala penjuru. Kalau-kalau peri air itu sangat kecil, seperti yang biasa kulihat di buku dongeng.

    Tapi tidak ada yang terjadi. Lima menit. Sepuluh menit. Aku mulai tertawa lebar.
   
    ‘Buku bodoh!’ Kataku mengutuk.
  
    Menyesali peri air yang tidak datang, aku lantas duduk termangu. Menatap keindahan yang ada di danau ini bukan ide yang buruk. Beberapa kegelisahan dan keresahan muncul menghantui pikiranku—tanpa diundang.
  
    Aku hampir tertidur karena angin semilir merasuki kenyamanan di tubuhku. Sesaat aku ingin benar-benar terpejam sebentar, sampai kakiku seperti terantuk benda keras.
  
    Aku mengaduh.
  
    Sambil berusaha mengumpulkan jiwa raga, aku melihat ke sekeliling. Benda yang menabraku tidak lain adalah kerikil dan batu-batu yang terbang tak beraturan di segala penjuru. Danau yang berwarna hijau pekat nampak berubah warna menjadi merah. Merah—seperti warna darah. Awan mendung perlahan tergantikan awan gelap dengan hujan deras. Petir menyambar sesekali. Pepohonan bergoyang kencang—menjatuhkan daun-daun dengan kasar.
  
    Apa yang sedang terjadi?

    Aku menghalangi mataku dengan tangan saat sinar menyilaukan datang dari tengah danau yang kini sudah menjadi pusaran air yang bertumpu di satu tempat. Dari dalamnya, muncul sesosok makhluk yang mengerikan.

    Mahkluk yang berbadan lebar dan tegak. Namun gigi bertaring dan kuku tajam dengan selaput kulit itu membuatnya lebih mirip monster daripada manusia. Seluruh kulit dan tubuhnya dipenuhi sisik dan sirip yang tajam dan nampak kasar. Mata berwarna hitam gelap yang berkilat-kilat itu tak ada bedanya dengan mata ular. Kini dia melangkah—mendekatiku.
  
    “Hai, aku peri air.” Dia bersuara. Membuyarkan lamunanku. Suaranya yang serak dan berat—terasa begitu mengintimidasi dan menekan.

    Aku terdiam. Masih menatap makhluk itu lamat-lamat. Dia—yang mengaku sebagai peri air itu kini tertawa menggelegar.
  
    “Sudah ada banyak orang yang kutemui disini, tapi kau adalah satu-satunya orang yang bertemu denganku, bukannya merasa takut atau gemetar tapi—“
  
    “—tapi malah tersenyum.” Aku melanjutkan kata-kata peri air itu.

    “Sepertinya aku sedang berhadapan dengan orang berbahaya.” Peri air tertawa lagi. Kali ini lebih keras.

    “Jangan mengejek. Kaulah yang lebih berbahaya. Lagipula mana ada peri air dengan bentuk sepertimu? Aku berani bertaruh, semua orang yang melihatmu lebih suka memanggilmu monster air.” Aku terkekeh. Tanpa merasakan ketakutan sedikitpun, aku mulai bertanya menyelidik, “Katanya kau bisa mengabulkan permohonan ya?”

    Peri air itu terlihat terkejut. Pastilah dia tidak menyangka ada orang yang tidak pingsan menghadapi kejadian seperti ini. Sebaliknya, malah menantang tanpa ragu.
  
    “Pertama, aku akan menjawab pertanyaanmu jika kau bersikap lebih sopan. Panggil aku peri air. Sebagai penguasa, aku bisa saja mengutukmu untuk tenggelam di danau yang dalam ini dan merasakan penderitaan tiada tara.” Tegas peri air.
  
    “Oke, oke, peri air.” Aku menjawab malas.

    “Kau benar. Sebagai peri air, aku bisa mengabulkan apapun. Dan kau punya dua kali kesempatan untuk mengajukan permintaan. Terkait hal-hal yang kau inginkan. Tapi saat permohonanmu dikabulkan, kau harus menemukan tumbal.”

    “Tumbal?”
  
    “Ya. Sederhana saja, aku akan memilih tiga orang yang nantinya harus menghilang dari bumi ini. Selamanya.”
  
    “Menghilang? Maksudmu—mereka mati?”
  
    “Tepat.”
  
    Aku menelan ludah.
  
    “Aku akan melakukan trial. Kau ajukan permintaan pertama dan ketiga orang tersebut akan mati satu persatu. Tapi untuk permintaan yang terakhir, kau bisa memilih apakah ingin melanjutkan atau mengembalikan semuanya dari awal.”
  
    “—kalau kau melanjutkan, artinya ketiga orang tersebut tidak akan pernah kembali lagi dan kau akan dapat kebahagiaan abadi yang kau inginkan.” Peri air berhenti sejenak. Sambil mengasah kukunya, dia kembali meneruskan, “Sebaliknya, kalau kau berubah pikiran ingin memutar waktu kembali, aku bisa melakukannya.”

    “Kau memang hebat.” Aku memuji.
  
    “Sebagai gantinya, kaulah yang harus mati.”

    Sekarang aku tertegun. Kakiku sedikit gemetar. Namun sedetik kemudian aku tersenyum liar, “Manusia pada dasarnya adalah homo homini lupus kan? Apa artinya membunuh tiga orang demi kepentinganku? Itu wajar dan harus dibenarkan.”

    “Manusia, kalianlah yang sebenarnya pantas disebut Leviathan.” Jawab peri air sambil menyeringai. Dia bersiap turun kembali ke danau dan hampir menghilang saat sebuah buku mendarat persis di bawah kakiku.

    “Ucapkan permintaan di depan buku itu dengan memberikan setetes darahmu.” Peri air kemudian menutup kepergiaannya dengan lolongan keras yang memekakan telinga.

     Aku mengambil buku itu, dan menusuk jariku dengan pentul.
                                  
                                        ***

    Pagi harinya, aku terbangun. Kepalaku terasa sangat berat. Spontan mengecek handphone, aku terperanjat kaget melihat pesan LINE yang muncul di layar.

Hai, sayang selamat pagi. Jangan lupa sarapan. Ke kampus kan hari ini? Aku tunggu ya.

    Aku tertawa. Wajahku bersemu merah. Permohonanku dikabulkan!
  
    “Tira, kamu ada kuliah hari ini?”
  
    Teman kos sekamarku, Amelia bertanya keheranan karena melihatku loncat kegirangan. “Itu dari siapa? Gebetanmu ya?” tanya Amelia penasaran.
  
    Aku menyambar cepat handuk yang tergantung di lemari. Kemudian berteriak kencang, “Dia kekasihku!”
      
                                        ***

    Aku sedang menunggu Rei, kekasihku, saat mendengar suara-suara ribut di luar perpustakaan.

    Karena kebingungan, aku memutuskan untuk menyeruak di antara kerumunan orang yang sedang melihat sesuatu di atas gedung bangunan utama kampus. Dosen-dosen bahkan dekan berkali-kali berteriak putus asa melihat satu mahasiswi mereka yang sekarang sedang berdiri dan bersiap untuk loncat ke bawah gedung. Hanya butuh tiga detik saat mahasiswa itu menerjunkan tubuhnya dengan bebas. Aku melihat dengan mata kepalaku persis saat tubuh mahasiswa itu menghantam keras aspal hitam tanpa ampun.

    Mahasiswi itu mati seketika. Dan menyisakan teriakan histeris dari semua orang. Tidak terkecuali aku.
  
    Apakah ini tumbal yang pertama?

You Might Also Like

0 komentar

Subscribe