Ini adalah sebuah kisah tentang pohon
terbaik,
Bahwa mempunyai akar yang kuat dan nyawa yang bisa hidup sepanjang masa,
Ternyata,
Butuh waktu, doa,
Dan tentu..
Mimpi yang tak pernah putus.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------
“Sedang apa?”
Suara yang sangat kukenal membuatku tersadar dari lamunan.
“Ah—tidak. Cuma sedang me time.” Aku tersenyum sambil menggaruk kepalaku yang tidak gatal.
Elang masih menatapku heran. Sepertinya ia belum puas dengan jawabanku barusan.
Seraya mengisyaratkan kepada kakakku itu untuk ikut duduk di teras rumah ini, aku berkata lagi, “Sebenarnya aku sedang berpikir, di hari keterbatasan ini, sebenarnya apa saja yang sudah aku pelajari?”
Elang tertawa renyah, “Kenapa tiba-tiba menanyakan hal
itu?”
“Entahlah. Mungkin karena kerapkali aku masih merasa begitu sepi, kisahku ini?”
Aku memutuskan untuk menghirup teh hangat yang tinggal seteguk, kemudian melanjutkan, “Begini ternyata rasanya sakit hati.”
Suara jangkrik sesekali terdengar nyaring. Hembusan angin membuat dedauan yang gugur terbang kesana kemari. Aku memejamkan mata. Berusaha untuk menghapus semua kenangan yang tidak akan pernah lagi, terulang kembali. Lagi, aku menangis dalam hati.
Menyadari tidak ada respon, aku melirik Elang. Kalau dulu, dia pasti akan langsung menertawakanku. Kemudian mencolek pinggangku dengan jahil. Dia cuma akan sedikit berkata bijak, ‘Sudahlah, sampai waktunya datang kamu pasti akan menemukan yang sejati. Sabar saja.’
Melihat Elang tetap diam, aku balik terdiam. Untuk sesaat, keheningan menyelimuti kami berdua.
Namun, aku mulai tidak sabar. Wajar saja sih kalau Elang tidak langsung merespon, tapi kami sudah berdiaman sejak sepuluh menit yang lalu!
“Mas, kok diam? Memang tadi ceritaku ada yang sa..salah ya?” Kataku tergagap.
Tiba-tiba Elang melompat. Dengan mata membelalak dia mencengkram bahuku dengan kuat, “Aku punya ide!” kata Elang setengah berteriak.
“Apa—itu? Duh, Tolong Lepaskan. Bahuku sakit nih, Mas.“ Kataku mengaduh.
“Nah itu dia!” Elang berteriak lagi.
Dengan mata yang berbinar-binar, Elang menyeringai senang. Tanpa berbasa-basi, dia melenggang masuk ke dalam rumah. Meninggalkan aku yang masih bengong dan terheran-heran. Tidak lama, dia sudah mengoyong gitar ke hadapanku.
Barulah aku mengerti maksudnya. Sambil mengerlingkan mata, aku menjadi ikut tersenyum riang. “Ide lagu baru ya?”
Elang mengangkat bahu. “Entahlah.”
“Loh kenapa?” Aku bertanya heran.
“Semua ini, tergantung. Setelah merasakan pedihnya ditinggal dan tidak diperdulikan, apa yang ingin kamu sampaikan kepada pendengar musik kita di luar sana?”
Aku diam. Mencoba mencerna dan memikirkan pesan apa yang sebaiknya ditulis dalam lagu baru yang akan kami ciptakan. "Aku...."
Belum sempat melanjutkan kata-kataku, Elang memotong
pembicaraan, “Biasanya, orang-orang suka mendengar lagu galau, kan? Bagaimana
kalau kita ikuti jenis musik yang sedang tren? Atau sekalian saja kamu main
film di layar lebar, jadi artis? Kita
pasti bisa cepat terkenal!”
Tawa Elang menggelengar. Dengan berkacak pinggang dan wajahnya yang memerah, aku seperti melihat tanduk hitam di atas kepalanya. Detik itu juga aku melotot kepada Elang. Tidak lucu!
Elang menghentikan tawa, lalu berkutat kepada gitar kesayangannya. Sepertinya dia tahu bercanda lebih jauh hanya akan membuatku murka.
“Memang banyak orang-orang galau di luar sana. Tapi mereka juga pasti sedang berjuang. Mencari jalan untuk keluar dari keterpurukan. Aku percaya, Tuhan itu Maha Baik. Tuhan pasti senantiasa memberikan secercah harapan. Dengan mendengar lagu penyemangat hati ini, aku ingin mereka tahu kalau mereka tidak sendirian. Karena meskipun saat ini yang ada hanya keputusasaan, aku ingin mereka bisa bangkit lagi. Bagaimana?”
Elang mengangguk mantap. Dengan gaya khasnya dia mengacungkan jempol, “Siap bos! Yowes kita latihan di luar yuk!”
---------------------------------------------------------------------------------------------------------
Cerita ini hanyalah fiktif dan khayalan penulis semata.
Cakka Kawekas Nuraga dan Elang Putra Nuraga adalah duo kakak beradik yang tergabung dalam The Finest Tree. Terinspirasi dari lucu nya kolaborasi mereka berdua, saya jadi punya imajinasi 'liar' soal background awal tercetusnya lagu "Tolong Lepaskan".
Uniknya, video clip lagu ini menggunakan konsep yang ringan dan menggemaskan. Kenapa saya bilang menggemaskan? Coba tonton video nya disini.
Jujur, saya terkesan dengan cita-cita mereka yang ingin memberikan motivasi untuk bangkit dari keterpurukan lewat sebuah lagu.
Saya mungkin tidak terlalu paham soal musik. Tapi menurut saya, lagu punya kekuatan nya sendiri untuk membawa perasaan dan jiwa seseorang dalam kondisi tertentu. Bisa ke arah nostalgia, bahagia, sendu, bersemangat dan sebagainya. Sampai saat ini, saya masih sangat menyukai lagu berjudul "Sampai Waktunya Datang".
Oleh karena itu, saya berharap kedepannya The Finest Tree tetap konsisten untuk memberikan lagu yang bermakna dan bermanfaat buat para pendengar setianya. Amin.
Salam hangat,
Maulida.




