See What You See; Thinking Out of the Box
00.34Hai, seneng banget
ketemu kalian lagi hehe /kalian siapa??/ /abaikan/
Setelah berhasil
mengantungi liburan selama 2 bulan pada semester ini, gue memulai membentuk
kegiatan. Yap! Sampe ada temen gue yang bilang kalau Maulida itu kurang
kerjaan, nambah-nambah pekerjaan, atau paling kronisnya mencari pekerjaan aneh.
Ah entahlah, kenapa gue
selalu berpikir untuk melakukan apa yang orang lain anggap gak penting ya?
/krik/
Well, gue memutuskan
untuk mencari sesuatu yang bisa gue hasilkan sebagai hal yang gue bilang tadi
membentuk kegiatan. Salah satunya yaitu: ngestalk orang!
Yep,
I said that I really need to find teacher. Experience is the best teacher. And
to get experience I must find teacher. I mean… okey, its really hard to explain
what I mean. /grin/
Singkat cerita, gue
menemukan seorang tokoh yang gue rasa sangat mampu menciptakan sesuatu hal buat
gue, dan gue percaya hal itu gak merugikan. Intinya gue mengumpulkan berbagai
bayangan positif dong supaya gue bisa memaksimalkan usaha gue buat ketemu dia.
Jeng Jeng, siapakah dia
yang gue maksud? Dia adalah Bong Chandra!!
Info tambahan juga,
sebelum menulis dan mengetahui sosok Bong Chandra, kalian bisa cek tulisan di www.ichsanfadillaah.blogspot.com
yang telah lebih dulu menjabarkan kak Bong Chandra—dengan judul ‘Bong-a-phoria’—
dalam suatu seminar di kampus gue /tapi waktu itu gue belum jadi mahasiswa/.
Dan memang dari dia juga gue tahu kak Bong Chandra /gausah disebutin waktu gue
langsung ngebut nyari jadwal kak Bong di google karena ga sabar pengen mengenal
kak Bong/ So, maaf banget juga kalau tulisan gue ini sangat berbeda dengan yang
disana—dengan pendapat pribadi amat sangat detail penjelasan dan isi blognya,
dengan yang disini yang masih sangat amat sangat sangat banyak kekurangannya,
but you must believe in me….. that…. I will do my best to write this. /bungkuk-bungkuk/
So, ada empat hal yang
bisa gue jabarkan dengan cukup jelas tentang materi yang disampaikan oleh
motivator kak Bong Chandra, yaitu:
1.
Selai Kacang
Awal
denger dua kata itu, gue sama sekali belum bisa mengira-ngira apa yang bakal
diceritakan oleh kak Bong. Dia emang jenius menarik suasana jadi gak datar.
Selain itu intonasi dan ekspresinya beneran ke to the ren banget. Dalam ruangan
yang dihadiri oleh orang-orang yang jauh lebih tua dari dia, pancaran kekaguman
ke ka Bong tetep gabisa ditutupi. Termasuk gue yang jadi gemetar dan
merinding…. tiap kali semilir angin AC dibawah gue berderu kencang. Oh beda
yah?
Fine,
the first will start with a story. Check this out!
“Pada
suatu kisah, ada seorang laki-laki yang bekerja pada suatu kantor. Dia dan
temannya selalu membawa bekal makanan untuk kemudian dimakan saat jam makan
siang. Setiap hari, satu orang dari dua orang itu menunjukan bahwa bekal
makanan yang dia bawa adalah selai kacang. Bahkan hal itu terus menerus terjadi
selama satu tahun. Pria itu setiap hari mengeluh dan mengeluh karena bekal yang
ia bawa selalu selai kacang. Sampai temannya tadi bingung dan berkata,
“Kalau
memang kamu bosan dengan selai kacang kenapa tidak menggantinya dengan selai
lain?”
Pria
itu menjawab, “Tidak bisa.”
“Kenapa
tidak bisa? Apa pembantumu yang membuatkannya untukmu? Atau istrimu yang
terlalu galak sehingga kamu tidak bisa mengatakannya? Sini biar aku bantu!”
Pria
itu menjawab lagi, “Tidak bisa.”
Temannya
bingung lalu berkata lagi, “Kenapa? Lalu siapa yang membuatnya???”
Pria
itu menjawab, “Aku.”
Nah
begitu kurang lebih ceritanya,
Kesimpulannya,
seperti yang Albert Enstein katakan “Orang yang mengharapkan hasil yang berbeda
tapi mengerjakan hal yang sama adalah orang gila.”
Iya,
seperti hal nya pria itu. Karena ternyata dia sendirilah yang membuat selai
kacang. Tapi ia terus mengeluh dan mengeluh tentang selai kacang dan
mengharapkan selai-selai lain, tetapi tetap membuat dan melakukan hal yang
sama. Bodoh dan tidak berguna.
Tapi
jujur, I’m a human seringkali mengakui hal itu loh. Kadang gue pengen setiap
hari merasa produktif dan menghilangkan kata-kata anak gaul labil yang bilang
“ih bosen.”
Buuuuuuut,
truly I confess that Im still so far dari kata anak stabil. Duh, I really wanna
change all my bad habits.
2.
Blame Excuse Justify
Yep,
kalau kata-kata ini mungkin udah gak asing bagi sebagian orang. Dari artinya
aja udah ketahuan dong.
Simpelnya,
selalu menyalahkan.
Maksudnya
gimana?
Intinya,
hidup selalu penuh dengan menyalahkan keadaan, situasi atau apapun yang akan lo
ciptakan untuk disalahkan. Kak Bong memberi contoh saat misal lo sedang main
badminton trus lo kalah, lo akan mulai bilang, “ah itu pasti Kok nya rusak, atau tadi ada angin tuh.”
/padahal mungkin ga ada angin./
Atau
menyalahkan nasib lo yang sekarang terlahir dari keluarga miskin dan merasa
bahwa orang-orang yang sukses itu, “ya wajar wong mereka punya modal, nah gue
kan begini begitu gabisa ini gabisa itu…”
Kalau
boleh gue tambah juga yang pernah gue denger dari radio, penyiar itu bilang
sesuai kata-kata seorang psikolog “Kamu hanya butuh 3 detik untuk menolak
dorongan menyalahkan orang lain.”
Iya,
itu artinya lo cuma butuh untuk berpikir ‘sejenak’ dan itu akan membuat lo
belajar dari kesalahan, bukan terus menerus menyalahkan untuk sekedar membuat
hati lo lega karena tidak merasa ‘disalahkan.’
Gue
pribadi juga menemukan kata-kata ini di google /setelah tertarik dengan 3 hal
yang disampaikan kak Bong dan ternyata memang banyak yang sudah
membicarakannnya/
“All blame is a waste of time. No matter how
much fault you find with another, and regardless of how much you blame him, it
will not change you. (Wayne Dyer)”
3.
Next, “Ketika kamu merasa tidak nyaman,
itu artinya kamu sedang bertumbuh.”
Sama
seperti saat gigi dewasa lo sedang tumbuh, lo akan merasa tidak nyaman.
Maksudnya
disini adalah, saat lo sedang mencoba melakukan sesuatu hal baru untuk menambah
pengalaman lo, ambil contoh kak Bong, dia bilang kalau pertama kali membawakan
seminar dia merasa gemetar sangat hebat, tubuhnya berkeringat deras, dan
kulitnya merasa kedinginan. Dia bahkan meminta petugas ruangan mematikan AC
padahal kata petugas AC nya belum dinyalakan. Haha ada-ada aja kak Bong.
But
that’s the point. Ketika kak Bong merasa tidak nyaman dengan dirinya yang
sedang bergerak, sebenarnya itulah saat dimana ia sedang bertumbuh.
Pernah
gue bilang sebelumnya kalau kita gak perlu cepet-cepet bertumbuh, secepat
apapun pertumbuhannya, gak usah khawatir, jalani sebaik mungkin kemudian
syukuri, karena meskipun pertumbuhan lo bagai rambut dibelah tujuh, itu tetap
lebih baik daripada tidak sama sekali. /ini selalu gue camkan karena penyakit
minder gue yang kerapkali menyeruak masuk hehe/
4.
The last, “Aku melakukan apa yang tidak
aku suka untuk mendapatkan apa yang aku sukai.”
Nah,
ini kalimat favorit gue. Kalau biasanya ada kata-kata ‘Do What You Love’, there’s
a new side dari kak Bong.
“Saya
itu orangnya intropert, males ngomong, susah berhadapan dengan orang, tapi
kalau di stage ya mau gamau saya emang harus ngomong dan sebagai motivator
memang itu tugas saya, toh artinya saya harus
melakukan apa yang sebenarnya
tidak saya suka untuk mendapatkan apa yang saya suka.”
Jadi
maksudnya gini, lo memang harus melakukan apa yang lo sukai untuk bisa
menikmati pekerjaan itu supaya gak merasa sebagai beban dan bisa enjoy. tapi we
cant denial, sometimes ada hal yang lo sukai tapi di suatu titik merasa
sebaliknya.
contohnya,
menjadikan belajar sebagai suatu kesenangan.
Apa
iya lo sama sekali gak pernah merasa bosan dan lelah? Apa iya lo akan selalu
merasakan kalau semua sisi dari pekerjaan itu menyenangkan? Gak kan? Tapi apa
iya kita harus ‘berhenti’ saat gak
melakukan apa yang kita suka?
Kalimat
ini sejajar juga sih sama ‘bersaki-sakit dahulu bersenang-senang kemudian’
Dan
maksudnya juga, lo gak harus menunggu untuk menemukan apa yang lo suka untuk
dikerjakan, tapi kerjakan apa yang menurut lo mampu meraih apa yang lo suka.
Oke!
Finally, itu aja yang bisa gue sampaikan dengan segala keterbatasan yang ada.
Seminar 2 setengah jam ini sebenarnya adalah program yang ditujukan kak Bong
untuk memberitakan perihal sekolah yang ia dirikan yaitu Bong Chandra
Billionaire of School. Singkatnya, sekolah itu khusus untuk anak usia 14-21
tahun. Dengan background bahwa selama ini anak-anak pada umumnya bersekolah
dengan pelajaran-pelajaran yang nantinya tidak banyak mereka gunakan di
lapangan pekerjaan. Gue berkata sejujur-jujurnya sangat berminat bisa masuk
sekolah disana. Tapi hal itu langsung tertepis dengan keterbatasan yang
terlihat karena biaya untuk sekolah yang hanya berlangsung 6 bulan ini seharga
Rp 26. 000.
000;
Iya,
Dua Puluh Enam Juta Rupiah.
Well,
sebaiknya gue memutuskan hanya mengambil inti sari dari materi yang dia
sampaikan aja dan bukan untuk daftar sekolahnya hehehe. Ya Toh seminar kak
Bong, konon kabarnya, maksud gue faktanya, sekarang mencapai tarif jutaan
Rupiah, hm, sekitar 2,5 juta per satu seminar lah yaaaaaaa. /stuck/
0 komentar