Konsepsi Manusia dalam Behaviorisme (2)
23.52
“ Give me a dozen healthy infants,
well-formed and my own specified world to bring them up in and I’ll guarantee
to take any one at random and train him to become any type of specialist I
might select—doctor, lawyer, artist—chief and, yes, even beggar-man and thief.
Regardless of his talents, penchants, tendencies, abilities, vocations, and
race of his ancestors. (J.B Watson). “
Ucapan
ini dibuktikan Watson dengan satu eksperimen bersama Rosalie Rayner di John
Hopkins, tujuannya menimbulkan dan menghilangkan rasa takut. Subyek
eksperimennya adalah Albert B., bayi sehat berusia 11 bulan yang tinggal di
rumah perawatan anak-anak invalid, karena ibunya perawat disitu. Albert
menyayangi tikus putih. Sekarang takut ingin diciptakan. Ketika Albert
menyentuh tikus putih itu, lempengan baha dipukul keras tepat di kepalanya.
Albert tersentak, tersungkur dan menelungkupkan mukanya ke atas kasur. Proses
ini diulangi: kali ini Albert tersentak, tersungkur dan mulai bergetar
ketakutan. Seminggu kemudian, ketika tikus diberikan kepadanya, Albert raguragu
dan menarik tangannya ketika hidung tikus itu menyentuhnya. Pada keenam
kalinya, tikus diperlihatkan dengan suara keras pukulan baja. Rasa takut Albert
bertambah dan ia menangis keras—Albert mulai menangis, membalik dan berusaha
menjauhi tikus itu. Kelak, ia bukan saja takut pada tikus, juga kelinci,
anjing, baju berbulu, dan apa saja yang mempunyai kelembutan seperti bulu
tikus. Albert yang malang sudah menjadi pantologis. Watson dan Rayner bermaksud
menyembuhkannya lagi, bila mungkin, tetapi Albert dan Ibunya meninggalkan rumah
perawatan, dan nasib Albert tidak diketahui.
Eksperimen Albert bukan saja
membuktikan betapa mudahnya membentuk atau mengendalikan manusia, tetapi juga
melahirkan metode pelaziman klasik (classical
conditioning). Diambil dari Sechenov dan Pavlov, pelaziman klasik adalah
memasangkan stimuli netral atau stimuli terkondisi (tikus putih) dengan stimuli
tertentu yang tak terkondisikan— (unconditioned
response). Setelah pemasangan ini terjadi berulang-ulang, stimuli yang
netral melahirkan respons terkondisikan. Dalam eksperimen di atas, tikus yang
netral berubah mendatangkan rasa takut setelah kehadiran setiap tikus dilakukan
pemukulan batangan baja (unconditioned
stimuluts).
Skinner
menambahkan jenis pelaziman yang lain. Ia menyebutnya operant conditioning. Bila setiap anak menyebut kata-kata
sopan, segera kita memujinya, anak itu kelak akan mencintai kata-kata sipan
dalam komunikasinya. Proses memperteguh respons yang baru dengan
mengasosiasikannya pada stimuli tertentu berkali-kali, disebut peneguhan (reinforcement). Pujian dalam contoh tadi disebut peneguh (reinforcer).
Ternyata
tidak semua perilaku dapat dijelaskan dengan pelaziman. Bandura menambahkan
konsep belajar sosial (social learning). Ia mempermasalahkan
peranan ganjaran dan hukuman dalam proses belajar. Banyak perilaku manusia yang tidak dapat
dijelaskan dengan mekanisme pelaziman atau peneguhan. Misalnya, mengapa anak
yang berusia dua tahun dapat berbicara dalam bahasa ibunya. Kaum behavioral
tradisional menjelaskan bahwa katakata yang semula tidak ada maknanya,
dipasangkan dengan lambing atau objek yang punya makna (pelaziman klasik).
Menurut Skinner, mula-mula anak mengucapkan
bunyi-bunyi yang tak bermakna. Kemudian orang tua secara selektif meneguhkan
ucapan yang bermakna (misalnya, “mama”). Dengan cara ini
berangsur-angsur terbentuk bahasa anak yang memungkinkannya bicara. Menurut Bandura, belajar terjadi karena peniruan (imitation). Kemampuan
meniru respons orang lain, misalnya meniru bunyi yang sering didengar, adalah
penyebab utama belajar. Ganjaran dan hukuman bukanlah factor yang penting dalam
belajar, tetapi faktor penting dalam melakukan satu tindakan (perfomance). Bila
anak selalu dihargai kerana mengungkapkan perasaannya, ia akan sering
melakukannya. Tetapi jika ia dihukum (dicela), ia akan menahan diri untuk bicara walaupun ia
memiliki kemampuan untuk melakukannya. Melakukan satu perilaku ditentukan oleh
peneguhan sedangkan kemampuan potensial untuk melakukan ditentukan oleh
peniruan.
Setelah baca penjelasan ini, gue juga dapet
sesuatu hal; tentang pentingnya peranan orang tua—keluarga—yang menjadi manusia
pertama yang berinteraksi dengan anak. Nilai-nilai dan perilaku dasar
dibentuk dari masa primer yaitu saat masih pada masa anak-anak. Lalu tiba-tiba gue bermata nanar—miris—ketika lagi sibuk
mengamati—duduk tenang di angkutan umum—kemudian mendengar, menguping (salah
satu kebahagiaan mengamati) percakapan Ibu-Ibu.
Ibu 1: “Anak Ibu kok nguap mulu, kan masih pagi Bu. Padahal kebetulan dia masuk siang ya sekolahnya hihihi..”
Ibu 2: ”Iya nih Bu, dia anaknya kalau malem tidurnya gamau tidur cepet, kerjaannya nonton film lah, main game lah, jadinya tidur larut malem terus. Begini deh kalau baru agak siang gini udah ngantuk aja.”
LO
TAU? gue disana cuma bisa narik nafas panjang. sedih tau gak seeeeh, ngedenger
seorang Ibu yang begitu pasrah menghadapi anaknya. Kenapa gue bilang gitu?
Yaiyalah secara, dia mudah banget bilang anaknya gamau tidur cepet. Ya terus? Dia gak usaha gitu? Terus terima aja
anaknya berperilaku demikian? Jadi kembali lagi sih, seperti kata Bapak Watson,
kemampuan membentuk manusia—berusaha membentuk. Seperti contoh kasus Ibu itu, kenapa gak dia matiin filmnya, ambil game-nya, bawa anaknya ke kamar, peringatin, kalau dia gamau, usaha-tungguin sampe anaknya mau tidur dan tertidur. kalau masih gagal, bacain dongeng, ninaboboin-dan banyak hal yang masih bisa dilakuin, tapi well, sayang bisa jadi rasa 'malas' atau 'kesibukan' orang tua menyebabkan hal itu tidak dilakukan. Banyak lho kenakalan yang
dilakukan anak-anak dan udah terlalu
banyak orang tua yang dengan pembenarannya—malah dengan lemahnya bilang “itu
udah kemauannya si anak”. Tanpa mau tau kalau dia juga turut berperan dalam
perkembangan si anak-khususnya saat mereka masih dalam masa primer—golden periode—masa dimana mereka belum
memasuki pengaruh lingkungan dan sebagainya—dimana dominasi keluarga adalah
yang utama.
Tapiiiiii,
jangan selalu menyalahkan orang tua kamu kalau ternyata pas udah gede-udah
dewasa—kamu tumbuh dengan banyak sifat buruk dan perilaku minus, karena ketika kamu sudah mulai menyentuh pengaruh lingkungan
dari luar, dan banyak manusia-manusia lain yang memberikan infeksi-infeksinya
untukmu, itu artinya kamu memang telah mengambil peranan yang kamu pilih (role taking).
Lagi-lagi no excuse dengan kehidupan yang kamu
jalani.
Meskipun
mungkin kamu sekarang adalah manusia penutup diri, penuh trauma, atau apapun
yang dulunya telah memberikan efek
tentang pembentukan konsep dirimu, kamu mampu, kamu bisa terlahir kembali—dan tidak
pernah ada kata terlambat sebelum kita
mati. As usuall, I said tht all people can change, Right? Kearah yang lebih
baik atau lebih buruk, that’s our choice.
0 komentar