06.07
Semilir angin berhembus pelan. Udara dingin langsung terasa menusuk tulang. Nampaknya cuaca hari ini tak mau peduli dengan orang-orang yang beraktivitas di luar sana. Kulihat dari jendela banyaknyagerombolan yang berusaha untuk meneduh di tempat yang tepat. Ada seorang penjual makanan kecil yang berusaha menutupi dagangannya dengan kain tanpa memedulikan kepalanya yang kebasahan. Nampak pula perempuan dan laki-laki yang bergandengan mesra. Terlihat di tubuh perempuan itu jaket yang diberikan laki-laki itu dengan suka rela. Ya, mungkin mereka pengantin baru yang hendak bulan madu. Benar bukan? Well, benar atau tidaknya aku tak peduli. Aku sedang sibuk berkutat pada air mata yang sedari tadi menetes tanpa komando. Ingin kuhentikan tetapi sepertinya hatiku masih segan untuk melakukannya. Kemampuan otakku terlalu kuat merekam semua kejadian di pekan ini. Terbayang dengan jelas sosok itu. Gerakan tangannya, wajahnya, suaranya dan semua yang ia lakukan kepadaku. Tanganku memegang dadaku yang naik turun karena nafasku yang tersengal-sengal. Sudah terlalu lama aku menangis. Kuusap mataku, lalu memutuskan untuk terlelap dan berharap aku lupa ingatan, amnesia atau semacamnya.
***
“Shilla...!” Suara yang begitu khas memanggilku.
“Kenapa?” Kujawab seadanya, berpaling sebentar lalu melanjutkan PR kimia yang tadi malam lupa kukerjakan.
“Kamu dipanggil Ozi !” Kata teman dekatku yang bernama prisca ini. Mendengar nama spesial itu disebut spontan aku langsung beranjak dari bangku.
“Dimana? Kapan?” Tanyaku cepat.
“Sekarang! Itu dia.” Prisca mengisyaratkan agar aku mengikuti tangannya yang menunjuk seseorang. Semudah membalikan telapak tangan aku berhasil melihat sosok itu yang sekarang sedang melihat kearahku. Mata kami bertatapan. Detik ini debar jantungku langsung menjalar dan memompa darah lebih cepat ke wajahku. Hasilnya wajahku merah layaknya tomat yang diberi pewarna lagi. Betapa tidak, ia pasti melihatku yang begitu antusias karena aku tidak tahu ia sudah ada di depan pintu kelas ini. Aku langsung memperbaiki aliran darahku dengan cepat agar wajahku kembali normal dan langkahku tidak sempoyongan. Aku memang terbiasa melakukan hal ini sejak kecil. Menyembunyikan perasaan yang aku rasakan dan bergerak seperti biasa. Walaupun aku kesal ataupun ingin menangis, bila ada orang didekatku yang aku tidak ingin dia mengetahuinya, aku mampu untuk tetap tersenyum dan memamerkan raut wajahku yang terlihat bahagia.
“Ada apa Zi? Tumben..”
“Haha bisa aja kamu, ini Shill...ada seminar bahasa inggris besok sabtu. Ibu Rose mengajak kamu untuk datang ke seminar ini.” Kata Ozi sambil menyerahkan selembar kertas. Aku mengambil dan membaca kertas itu sebentar lalu melihat mata Ozi dan bicara penuh tanda tanya.
“Kok kamu yang ngasih ini? Kamu ikut juga ya?”
“Iya, empat orang yang boleh ikut. Kamu sama aku yang direkomendasikan langsung sama Bu Rose. Sisanya kita boleh ajak teman kita. Satu temanku satu lagi teman kamu. Gimana?”
“Oh, iya aku ngerti. Jam berapa?”
“Jam 7 pembukaannya. Buat lebih lengkapnya kamu baca aja di kertas itu. Ada keterangan waktunya, jadwal acaranya pokoknya komplit. Kayak mie pake telor hahaha...” Ozi tertawa disusul aku yang bermuka ‘datar’.
“ih kamu jahat deh, jadi keliatan garing kan” Jawabnya sambil mengacak-acak rambutku. Aku langsung tersenyum nakal tanpa mengalihkan pandanganku dari wajahnya yang sedang tertawa puas.
“Yaudah aku ke kelas ya, kalau mau berangkat sama-sama nanti malam sms aku aja.” Ozi berlalu pergi meninggalkan aku yang masih berdiri terpaku. Ini mimpi! bayangkan, kami bisa pergi ke seminar bersama-sama! Tahukah berapa lama aku menantikan kesempatan langka ini. Ozi, orang yang sudah lama aku sukai. Kami baru mengenal saat kebetulan bertemu pada kelompok yang sama di ekstrakurikuler english club. Rasanya aku ingin pingsan saat Ozi beritahu tentang seminar itu tadi. Jantungku tidak bisa berhenti berdebar-debar. Aku meloncat-loncat kegirangan sampai akhirnya ditegur guruku yang sudah ingin masuk ke dalam kelas.
***
Tidak pernah terpikirkan olehku, layaknya handglider yang terbang kesana kemari lalu pada saat ia sedang asyik mengkhayal betapa tingginya harapannya untuk terbang lebih tinggi lagi, namun tiba-tiba angin berhembus kencang dan menjatuhkan semua harapan itu. Tersungkur di tanah sekeras mungkin. Tak usah dipertanyakan bagaimana perasaannya karena hanya akan terdengar seperti tikus yang meraung kesakitan. Itulah yang kuhadapi begitu melihat Ozi sang pujaanku bersama gadis cantik disampingnya.
“Ozi, aku haus. Beliin jus mangga dong.” Ucap gadis itu dengan bernada semanja mungkin.
“Iya, kamu tunggu disini aja yah” Jawab Ozi.
Aku yang melihat mereka berdua cuma bisa menyedot teh botol dihadapanku. Dia, gadis cantik itu bernama Nisa. Mantan pacar Ozi yang baru putus seminggu yang lalu. Nisa yang membuat keputusan untuk berpisah dengan Ozi karena ia dijodohkan oleh orangtuanya. Sungguh miris bukan, anak zaman sekarang dijodohkan? Bohong rasanya kalau aku bilang tidak senang mendengar mereka putus, tetapi jika mendengar Ozi yang katanya sampai sekarang masih menyukai gadis ini, rasanya tidak ada gunanya juga. Ozi oh Ozi, kenapa kamu tidak pilih aku saja, aku akan siap ada disampingmu dan tentu keluargaku tidak pernah mau mengenal perjodohan.
“Mending kita masuk ke lobby aja yuk, kita tunggu disana aja sampai acaranya mulai.” Usul prisca yang tidak tega melihatku yang berkali-kali menghembuskan napas sekencang mungkin daritadi.
“Iya. Ozi, Nisa kalian mau ikut gak? Kataku memanggil mereka.
“Kalian duluan aja dulu nanti kita nyusul.” JLEB! Ucapan Ozi barusan semakin membuat hatiku tertusuk ribuan jarum pentul bertubi-tubi. Mereka ingin berduaan. Mengacuhkan kami yang tadi berangkat bersama-sama mereka. Bodohnya aku yang tadi malam sampai tidak tidur karena membayangkan bisa bertemu dan janjian berangkat bersama Ozi. Padahal Nisa bahkan telah lebih dulu dijemput oleh Ozi dirumahnya.
***
“Nisa.. kamu tahu kan perasaan aku ke kamu? Aku masih sayang kamu sa, aku mau kita kayak dulu, biar aku yang bicara sama ayah kamu soal perjodohan itu.”
“Maaf zi, aku gak bisa.”
“Tapi sa, kamu juga gak mau kan jadian sama orang itu? Kamu masih sayang aku kan?” Ozi berusaha terus membujuk Nisa. Memegang tangannya yang kemudian dihempaskan oleh Nisa.
“Engga Ozi, aku gak sayang lagi sama kamu, berulang kali aku jelasin kita gak mungkin balikan lagi ! Udah ya aku mau pulang, aku udah dijemput Ovie.”
Nisa pergi tanpa bisa ditahan lagi oleh Ozi. Dia dijemput oleh pria tak dikenal Ozi yang bernama Ovie. Ozi berjalan luntai tanpa arah. Sudah sekitar satu jam dia bersama Nisa tadi, berkeliling ditaman, bicara kecil tentang tugas disekolah. Ozi tidak memedulikan seminar yang mungkin sudah lama dimulai.
Sampai akhirnya ia mendengar handphonenya berdering. Ada 12 missed call dari Shilla.
“Ozi kamu dimana? Seminar sesi pertama udah hampir selesai.” Kata Shilla dari seberang sana. Suaranya bergetar karena khawatir. Tetapi Ozi bahkan tidak terlalu mendengar apa yang diucapkan Shilla.
“Iya sebentar lagi aku kesana.” Jawab Ozi seadanya.
***
“Ozi kamu kemana aja? Nisa mana? Aku udah nunggu kamu satu jam disini” aku berusaha merendahkan suaraku yang sebenarnya aku sangat kesal karena mereka berdua menghilang dan melupakan tujuan datang kesini.
“Nisa udah pulang” Kata Ozi datar tanpa melihat ke arahku.
“Ayo kita cepetan masuk, Prisca udah di dalam. Katanya seminar sesi pertama hampir selesai. Kita bisa ikut yang kedua. nih tas kamu aku bawain tadi.” Aku langsung berlari kecil menuju pintu masuk tetapi ternyata Ozi tidak mengikutiku dibelakang. Dia malah memakai tasnya dan berjalan kearah pintu keluar. Aku menarik tangannya.
“Ozi kamu mau kemana??”
“Aku mau pulang.”
“hah? Kamu bercanda kan?” Tanyaku sambil mengguncangkan tangan Ozi, bermaksud untuk menyadarkan ucapannya. Dia pasti melakukan lelucon semata, setelah ini dia akan tertawa terbahak-bahak karena berhasil membuatku mengucurkan keringat sebanyak ini.
“Kamu keras kepala banget sih, aku kesini cuma pingin nembak Nisa tapi ternyata aku ditolak. Trus untuk apa aku ikut seminar gak penting itu.” Ozi melepaskan tanganku dan berjalan semakin jauh. Aku tersentak kaget. Namun aku tetap tersenyum.
‘ Ini pasti salah satu adegan drama yang dilakoni Ozi. Setelah melihatku panik dan berteriak dia akan kembali dan menggodaku. Aku tak akan tertipu’ Batinku meyakinkan.
Aku terus berdiri di tempat itu sampai punggung Ozi benar-benar menghilang. Tetapi tidak ada yang terjadi. Ozi tidak lagi kembali kesini. Dia sudah tidak terlihat oleh mataku. Lenyap ditelan kerumunan orang-orang yang semakin ramai. Aku ditabrak oleh orang-orang yang lewat karena menggangu jalan. Sosok itu benar-benar pergi, meninggalkan aku sendirian. Tidak menghiraukan perasaanku, penantianku. Air mataku mendesak keluar. Aku tak kuat lagi membendungnya. Sedari tadi aku menahan perasaanku dan menunggu Ozi sendirian di lobby ini. Aku tidak ikut seminar itu karena khawatir kenapa Ozi tidak datang juga. Kubuang jauh-jauh rasa cemburuku. Yang aku ingin hanya mereka bisa mengikuti seminar. Tetapi apa yang kudapat? Jangankan bertanya tentang keadaanku, tetapi justru memberikan jawaban yang sangat kasar itu, kata-kata yang membuat hatiku semakin pengap. Ya Allah, semoga ini cuma mimpi. Aku ingin cepat-cepat terbangun agar aku tidak merasakan sakit yang amat hebat ini. Aku sadar bahwa itu harapan belaka ketika prisca datang menghampiri dan memelukku yang tidak bisa berhenti menangis.
***
Ingatan itu kembali terulang. Aku yakin bahwa tadi aku tidak sepenuhnya tidur karena rentetan kejadian seminar itu terus terngiang-ngiang di kepalaku. Begitu jahatnya sikap Ozi. Tidak pernahkah dia memikirkan perasaanku yang selalu menunggunya. Mengapa dia harus memilih gadis lain padahal ada aku yang punya cinta untuknya. Aku mencoba untuk menghapus perasaan sedihku. kucoba cara lain, kuambil laptop dan kubuka jejaring sosial Facebook.
Aku meng-update status yang kuambil dari lirik lagu seorang penyanyi.
“ Kau harusnya memilih aku, yang lebih mampu menyayangimu berada disampingmuu, tinggalkan dia lupakan dia datanglah kepadaku “
Baru saja aku selesai membagikan status itu, handphoneku berdering. Ada sms masuk. Kuputuskan untuk melihat sebentar isi sms tersebut.
From : Cakka
Message: hai shilla, status kamu kenapa? Jangan sedih ya, aku selalu ada buat kamu kok :)
Aku melempar handphoneku lalu melanjutkan bermain laptop tanpa membalas sms orang yang bernama Cakka itu. Aku kenal dia, banyak teman-temanku yang mengatakan dia memang sangat menyukaiku. Bahkan bukan hanya dia, masih banyak orang-orang lain yang aku tidak terlalu mengenal mereka tetapi bilang padaku bahwa mereka bersedia dengan senang hati jadian denganku. Hey, aku hanya suka Ozi, aku tidak bisa membalas perasaan itu jika aku tidak benar-benar suka kan? Toh aku tidak bermaksud menyakiti mereka, tidak ada paksaan yang mengharuskan harus menyukai orang yang suka kita kan?
DEG! Kata-kata itu, kata-kata yang barusan kuucapkan itu, sangat cocok dengan keadaanku. Tanpa sadar aku telah menemukan jawaban dari semua ini, semua yang membuatku terjatuh dan begitu terluka. Akhirnya aku sadar, untuk apa menangis karena orang yang kita cintai tidak mencintai kita? Bukankah aku juga pasti pernah melakukan hal yang sama? Aku mencintai seseorang tetapi orang itu tidak mencintaiku. Sebaliknya, orang mencintaiku tetapi aku tidak mencintainya. Lantas bukankah ini sama? Selama ini aku salah. Aku hanya berpikir tentang perasaanku saja, aku tidak mau memikirkan bahwa dibalik kejujuran pasti ada kenyataan yang harus aku terima. Entah itu kepahitan atau rasa manis di hati. Sering kali ada orang yang telah menanti kehadiran kita dengan tulus, tetapi kita justru mencari seseorang yang jauh dan belum tentu menyukai dan menerima. Memang itulah cinta. Datang tiba-tiba, tidak melihat kapan dan dimana seharusnya cinta itu tercipta. Terkadang kita hanya memikirkan sikap yang diterima dari orang lain tetapi tidak bercermin pada diri sendiri apa yang telah kita berikan kepada orang lain. Dicintai, mencintai, atau sama-sama mencintai. Kali ini air mataku kembali jatuh. Aku menghadapkan mataku ke atas untuk menahan kapasitas air yang akan keluar. Kemudian kutatap lagi jendela kamarku. Hujan telah berhenti. Aku memejamkan mataku.
‘Mungkin belum saatnya aku mendapatkan orang yang aku cintai, yang bersedia pula untuk senantiasa berada disampingku dan menerima bagaimanapun diriku. Walaupun berat, sulit, ataupun sakit untuk memutuskan untuk mencari cinta yang baru dan melepaskan belenggu perasaanku padamu,wahai Ozi. Tetapi aku yakin aku mampu membenahi perasaan ini, aku bisa karena aku mau mencoba”
Semua anugrah itu datang daripada-Mu ya Rabb. Alhamdulillah, engkau berikan aku petunjuk. Aku akan menjadi gadis yang lebih kuat karena cobaan-Mu ini. Aku akan mencari lagi sampai aku menemukan jodoh yang diberikan untuku. Aku ber-istighfar kemudian bangun untuk mengambil air wudhu.
0 komentar