Read is a Sexy-destiny!

22.53

Saya punya virus. Penyakit menular yang saya bawa kemanapun. Kalau kalian mau bilang saya orang jahat karena berniat menyebarkan virus ini kesiapapun, silahkan. Saya mah orangnya legowo, ikhlas kalau kayak kata orang yang diselingkuhin mah. Virus ini dinamakan Book Addict alias doyan buku. Yap, buku itu untuk dibaca, bukan direbus trus ditelen pake rasa yang pernah ada. Udah deh gausah baper. *ditimpuk*
Buku numpuk itu keren. Perasaan ditumpuk itu cemen.
Jadi apa masalahnya? Kenapa sebagian dari kita gak suka baca? Alasannya? Banyak. Coba deh kamu centang alasan di bawah ini yang kamu banget:
1)  Gak suka baca karena: Malas baca. Malas liat tulisan yang panjang. Bikin Ngantuk. Pusing.
2)  Gak suka baca karena: Malas beli buku. Malas keluarin uang untuk buku yang nantinya bakal jadi usang. Rugi.
3)  Gak suka baca karena: Malas luangin waktu. Malas untuk mikir. Mending tidur siang. Nonton. Atau dengerin musik.
Nah lho, alasan seperti demikian klasik banget sih sebenernya. Dosa terindah manusia itu ya emang MALAS. Pemikiran manusia standar itu ya memang MALAS. Pertanyaannya, mau jadi manusia jenis begitu?
 
Manusia gak sehat selalu mau instan, gak mau ribet.

Toh, hidup ini masih banyak yang lebih menyenangkan misalnya: rumpi gaul di mall, nongkrong sambil gosip, atau stalker pacar orang. Iya begitu? Kalau kamu masih ngangguk ajep ajep ketika baca contoh seperti demikian, berati kamu belum cukup matang untuk jadi salah satu manusia yang ada di catatan dunia. Kenapa?
“Great minds discuss ideas, average minds discuss events, small minds discuss people” –Admiral Hyman G. Rickover.
            Pikiran kita masih cetek kalau di 2016 ini masih sibuk ngomongin orang bahkan nge-bejatin teman sendiri. Gimana nggak, kalau setiap ngobrol gak ada bahan omongan seru, toh alternatif terbaik ya cari-cari bahan dari kelemahan orang. Ini gak akan terjadi kalau kita suka membaca. Percaya deh, ketika buka buku, pasti akan ada banyak hal yang bisa dibagikan dan bertukar pikiran dengan lebih bermakna, siapa yang gak mau? Buku seharusnya gak bikin kamu dikucilkan, justru bisa jadi gaul dengan intelejen tinggi, itulah seni yang sebenarnya!

Yang lebih penting lagi, kita jadi manusia yang lebih berkualitas. Tingkat cahaya di wajah akan meningkat kayak editan foto kalau kita punya ilmu. Orang lain pasti akan menghargai kamu yang berwawasan luas daripada yang manusia celoteh sana sini tapi gak ada isinya. Logikanya, bandingin aja manusia yang gagap-megap megap waktu ditanya pendapat sama manusia yang beragumen dengan landasan kuat karena pengetahuan yang berasal dari buku bacaannya.

Emma Watson terkenal suka baca. Siapa yang gak suka dia coba?

 
Ada yang bilang, membaca itu pekerjaan untuk manusia tertentu saja. Oke, coba saya ambil contoh manusia sosial dan sains. Kalau kamu siswa/mahasiswa di jurusan sosial, pasti pernah dengar pertanyaan “kalian memakai derajat kebenaran yang bagaimana?”. Derajat kebenaran adalah sejauh mana suatu pendapat bisa dibuktikan secara valid, ibarat 1+1 sama dengan 2. Jelas toh, pemikir-pemikir yang selalu memakai logika dan angka pasti bingung anak sosial belajarnya gimana. Fyi, sosial itu beragumen dengan analisa pribadi dan diperkuat dengan teori-teori atau pendapat-pendapat para ahli yang pernah ada. Karena itu gak jarang kita dengar anak sosial bilang,

“Menurut saya, hal ini........sebagaimana juga Bary Buzan dalam bukunya bla bla bla...... dari situ bisa kita lihat bahwa.......”
    
          Jadi, kalau anak sosial yang harus mix pendapatnya dengan landasan yang lebih valid sih, artinya buku emang harus lebih lengket dibanding lem perangkap tikus.

Lalu terkesan kalau anak sains selalu berkutat dengan rumus, tanpa harus membaca. Singkatnya, sosial dan ipa itu beda banget! Sama halnya dengan manusia kulit hitam dan kulit putih. Atau yang masih single dengan yang sudah menikah. Dan termasuk yang sudah punya pasangan baru dengan yang belum move on sampai mau minum baygon? Betul begitu?
Eits, tapi jangan salah lho. Ternyata anak sains atau sosial gak beda-beda amat kok, mereka sama-sama manusia yang: mau kelar ujian, mau lulus, mau punya pulus, mau cepet nikah lalu punya anak, mau ini mau itu banyak sekali~
          
Nah, mereka bisa dapat itu dengan bagaimana? Kelar ujian harus baca materi; lulus harus bikin jurnal, tka atau skripsi; punya pulus harus otak yang berisi dan seperti demikian-seperti demikian. Jadi, persamaan keduanya adalah harus membaca!

Gak beda dengan anak sosial, anak sains harus belajar dengan membaca. Mungkin selama ini banyak yang salah tafsir membaca itu apa. Membaca itu identik dengan tulisan panjang atau rentetan kisah yang membosankan. Padahal buku rumus, buku percobaan, buku anatomi, buku kimia sekalipun itu membaca. Jangan salah, banyak loh novel yang bisa mengajarkan kita rumus atau sejarah.

Pasalnya, takdir manusia itu harus membaca. Pikiran kalau yang suka membaca itu ‘orang old-fashioned’ tuh justru pikiran udik. Memang yang selama ini tercatat sebagai ter-sukses, ter-cerdas, ter- ter lainnya adalah orang yang gak pernah pegang buku? SALAH WOY! Model sekalipun, harus membaca untuk tahu style mana yang disukai dari seluruh dunia—setiap saatnya. Catat, setiap saat! Meskipun dia orang tajir sampe banjir-banjir, yakali kudu keliling dunia setiap saat untuk liatin satu-satu style yang kekinian. Membaca itu cara tersimpel untuk “tahu”.
kasian deh yang gak punya buku!!
Gimana? Masih mau ngelak kalau membaca adalah pekerjaan wajib?

Okedeh, kalau masih ada yang ganjel dan ragu kalau manusia itu fitrahnya membaca, coba kita liat lebih lengkap manfaat membaca yang lainnya: 

  • “Look up, Look Down”
Membaca akan mengajarkan kita untuk mengakui bahwa kita belum ada apa-apanya. Coba tengok ke atas, Coba tengok ke bawah. Ketika merasa bangga dengan kehebatan kita menulis misalnya, dengan membaca, kita akan tahu kalau diluar sana ada lebih banyak yang melebihi apa yang selama ini kita pamerkan. Sebaliknya, ketika merasa kalau percintaan kita paling sengsara misalnya, dengan membaca, kita akan tahu bahwa ada banyak kisah yang melebihi itu semua.

                                               
Kamu gak sendiri di bumi ini, keep humble, be strong!
  • “Seeing a bigger picture, be imaginative to be more creative.
Sebagian mungkin belum banyak mengerti kalau membaca buku itu mengajarkan kita untuk terbiasa berpikir kreatif. Banyak yang meremehkan orang-orang yang suka berimajinasi tinggi. Padahal, siapa yang suka Detective Conan? Atau Doraemon? atau Cinderella?
Dulunya alat pengubah suara, bola yang bisa jadi besar, ikat pinggang yang merenggang dan sebagainya-sebagainya ditambah baling-baling bambu itu MUSTAHIL. Terlalu imajinatif.
Tapi guys, FYI, dasi kupu-kupu, jam berkamera, ikat pinggang dan sebagainya-sebagainya itu, jadi ide kreatif yang kesampean loh! Bahkan baling-baling bambu selalu jadi percakapan asyik dengan harapan suatu saat beneran tercipta. Atau Cinderella yang punya segudang mimpi dan harapan. Poinnya disini, membaca itu mengajarkan kita melihat warna-warni kisah, dan dunia yang berbeda.
I love to read
That doesn’t mean I dont have a life
It doesnt mean I’m a nerd
I only love the feeling that
Even when you’re back in reality
You still feel like you’re in a different world

  •  “Book give knowledge that someone could never mention.”
Kami Pria. Dan ingin dimengerti. Kami Wanita. Harus dimengerti.
Yap, saya setuju dengan keadilan gender, bahwasanya semua manusia itu harus dimengerti satu sama lain. Masalahnya, gak semua hal bisa dikatakan dengan jelas dan tegas untuk bisa dimengerti.
“Hal begitu mana bisa dikasih tau langsung!”
“Itu terlalu memalukan untuk dikatakan! Tapi kau harus mengerti, dong!”
Saat begini, saat hal-hal rahasia wanita atau pria yang tidak bisa dikatakan secara jelas misalnya tentang mimp* ba*s** atau pakai*n d***m pasti membuat rumit semua orang. Lalu apa pemecahannya?
“HUH! MAKANYA BACA BUKU TENTANG ITU DONG!”
Yap, membaca buku.
Dalam konteks ini, tidak dapat dipungkiri kalau wanita lebih banyak hal-hal ‘khusus’ dibandingkan pria. Bukan hanya karena fisik mereka yang begitu berbeda, tapi juga tentang perasaan, tentang kehamilan, tentang menyusui, tentang kesukaan, dan sebagainya-sebagainya. Maka beruntunglah sudah banyak tercipta buku-buku untuk memahami wanita. Contoh nya penerbit Stiletto Book sebagai Penerbit Buku Perempuan.
Karena manusia ingin dimengerti kalau mengerti itu harus cari sendiri!



So, in the end, percayalah kalau kebahagiaan itu tidak bisa dibeli, tapi dengan membeli buku, kita bisa bahagia! banzai-banzai hore hore!!! :3 sampai sini dulu ya, selamat membaca semuanya:3



Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Ulang Tahun Kelima Penerbit Stiletto Book


feel free to contact me for further discussion!
Maulida Ayu
Instagram/Twitter/LINE: maulidaayuSP
Facebook: Maulida F Ayu
maulidaayusp@gmail.com

You Might Also Like

8 komentar

  1. i love the way you write this. it's good @_@

    BalasHapus
  2. Good work! Keep it up! Jadi pengen baca terus :)

    BalasHapus
  3. A Reader is sexy person. You rock it. Always love your writing dek. Keep it works. :)

    BalasHapus
  4. Setuju banget, membaca itu kegiatan yang sangat penting. In this case, stay contagious ya Ayu! Hehe

    BalasHapus
  5. Sihiyyyyyyyyy....keyen binggo dekk...teruskan menulis! we read for writing.

    BalasHapus
  6. Kak, masih keliatan belum move on-nya nih :'D bagus bagus! inspiring buat orang-orang yang selama ini masih buta akan pentingnya baca. kakak pas nih ngasih ini ke aku sebagai book-addicted, karena aku setuju semua dan udah ngerasain efek positif dari banyak membaca :)

    BalasHapus

Subscribe